Stiker tersebut sejatinya dibuat oleh kreator yang jadi mitra Line, dan diunggah ke toko stiker atas persetujuan Line. Fitur stiker disediakan Line untuk memperkaya pengalaman pengguna dalam berkirim pesan.
Team Lead of PR Line Indonesia, Teddy Arifianto mengatakan, pihaknya sudah menghapus stiker tersebut untuk kawasan Indonesia. Mereka menyatakan komitmen untuk melakukan penyaringan atas konten yang sensitif dari perspektif budaya lokal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Khususnya kekhawatiran kaum ibu terhadap anak-anak atas adanya pengaruh negatif dari beredarnya stiker semacam LGBT tersebut,” kata Ismail.
Sebelumnya, stiker di aplikasi Line juga sempat diprotes karena menampilkan gambar yang seharusnya dikonsumsi oleh orang dewasa.
Seorang warga Bogor bernama Gioveny Astaning Permana, membuat petisi digital yang memprotes keberadaan stiker tersebut dan berharap Line membuat kebijakan yang memgang prinsip hak anak. (adt)