Meski begitu, tidak serta merta OLX bisa memberi seluruh datanya kepada pihak kepolisian karena hal ini terhalang isu privasi.
"Kalau ada laporan penipuan yang ada datang ke kita, kita akan cek terlebih dahulu akunnya. Selama pihak polisi tidak meminta data-data tersebut, kita tidak kasih karena itu privasi. Tapi kalau pihak Polri minta kerjasama, kita siap bantu," kata Hermanto, Marketing Communication Manager OLX Indonesia usai jumpa pers di Jakarta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Modusnya, mereka pasang harga murah, pembeli tertarik, akhirnya minta transfer duluan. Setelah transfer, barang tidak dikirim. Akhirnya, korban pun lapor," lanjutnya.
Hingga saat ini belum diketahui jumlah akun yang terindikasi penipuan di platform OLX. Hermanto menegaskan aksi penipuan itu tidak hanya dilakukan di OLX, tetapi juga di platform e-commerce lain, termasuk pada penyedia jasa rekening bersama rekening bersama.
Pada Senin kemarin, Polda Metro Jaya mengungkap sindikat penipuan transaksi jual beli online melalui situs OLX.co.id, Kaskus, dan Bukalapak, dengan penghasilan mencapai Rp10,1 miliar selama setahun.
Petugas telah meringkus lima orang jaringan penipuan tersebut, yakni ROB (32), BUR (33), HEN (34), Z (49) dan seorang mahasiswa AS (23) di Sidrap, Sulawesi Selatan.
Agar terhindar dari korban penipuan, Hermanto menyarankan calon pembeli aktif bertanya untuk mengetahui detail barang yang hendak dibeli. Metode COD (bertemunya penjual dan pembeli secara langsung), juga menjadi hal yang sangat direkomendasikan untuk mencegah penipuan.
"Yang membedakan OLX dengan e-commerce lain adalah kita selalu edukasi masyarakat untuk harus ketemu (COD). Karena kita berbeda dengan e-commerce lain yang menjual barang baru," tutupnya. (adt/eno)