"Wi-Fi dan Bluetooth adalah dua fitur yang sudah diminta banyak orang sejak lama," kata Eben Upton, CEO Raspberry Pi Trading.
Sejauh ini, Raspberry Pi sudah banyak digunakan di sekolah-sekolah. Namun ketiadaan Wi-Fi pada generasi sebelumnya membuatnya harus bergantung kepada kabel ethernet untuk bisa mendapatkan koneksi internet. Dengan adanya Wi-Fi, perangkat ini pun bisa diletakkan lebih fleksibel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya konektivitas, performanya pun ditingkatkan. Kini, komputer mini tersebut menggunakan chipset 64-bit dengan prosesor quad-core ARM Cortex-A53 berkecepatan 1,2 GHz.
Pada generasi sebelumnya, PC mungil dengan sistem operasi berbasis Linux ini hanya menggunakan prosesor 32-bit berkecepatan 900 MHz.
Upton percaya, spesifikasi hardware yang lebih tinggi akan membuat orang beralih ke Raspberry Pi sebagai desktop PC yang biasa digunakan sehari-hari.
“Saya sangat berharap kali ini kita sudah berhasil melewati batasan yang selama ini sulit untuk dilewati, sehingga Anda kini bisa benar-benar mengatakan, ya, ini adalah sebuah PC," katanya.
Upton mengatakan bahwa kemungkinan komputer yang sering disebut dengan nama Raspi ini akan dijual seharga US$ 35. Namun mereka harus menunggu agar harga komponennya turun terlebih dahulu.
Di sisi lain, sertifikasi dan sedikitnya insinyur juga menjadi masalah tersendiri untuk merilis perangkat ini. Dari 20 karyawan yang ada, insinyurnya hanya 6 orang.
"Mengembangkan produk ini jauh lebih sulit daripada generasi sebelumnya, Raspberry Pi 2," kata Upton.
Seperti komputer pada umumnya, Raspberry Pi bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti bekerja, browsing, bermain game, bahkan memutar video beresolusi HD.
Ketika diluncurkan pertama kali pada akhir Febuari 2012, dalam waktu beberapa jam saja perangkat ini berhasil terjual 100.000 unit. (adt/adt)