Badan antariksa Amerika Serikat atau NASA bersama Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) bekerjasama dalam ekspedisi GMT ke Halmahera, Maluku Utara. Ini bisa dikatakan kesempatan langka.
Ditemui di kawasan SCBD, Jakarta Pusat, Wakil Duta Besar AS Brian McFeeters mengungkapkan kerjasama ini memang istimewa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Apa Dampak Gerhana Matahari Total Bagi Bumi? |
Peneliti NASA, Nelson Reginald (CNN Indonesia/Hani Nur Fajrina) |
Sementara Gopalswamy menuturkan, selama proses GMT tim NASA akan turut mengamati apa yang terjadi di sekitar Matahari menggunakan instrumen coronagraph.
"Matahari adalah pemain penting dalam fenomena ini dan mengamati corona serta kemungkinan letupan api yang terjadi dapat menambah informasi ilmiah," ucap Gopalswamy di tempat yang sama.
Ditambahkan oleh Clara Yonoyatini dari pusat ilmu antariksa Lapan di Bandung, kerjasama ini diharapkan bisa memberi informasi baru mengenai fenomena GMT yang semakin dianggap menarik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Lokasi GMT di Indonesia (CNN Indonesia/Laudy Gracivia) |
"Dengan teknologi yang semakin canggih dan kolaborasi dengan NASA, kami harap bisa hasilkan data baru mengenai Gerhana Matahari. Kami juga semangat sebab terasa sekali beda euforianya dibanding tahun-tahun sebelumnya," kata Clara.
Untuk Lapan sendiri mereka akan memakai instrumen Compact Littrow Spectograph yang terdiri dari teleskop optikal, kamera CCD, serta spectograph dengan resolusi R ~ 8000.
Pada intinya, dua badan antariksa ini akan berbagi ilmu, teknologi, dan data ilmiah demi menunjang pengetahuan lebih dalam mengenai Gerhana Matahari Total.
(eno)
Peneliti NASA, Nelson Reginald (CNN Indonesia/Hani Nur Fajrina)
Lokasi GMT di Indonesia (CNN Indonesia/Laudy Gracivia)