Kisah Pendiri Tokopedia dan Alibaba, Idola yang Jadi Lawan

Aditya Panji , CNN Indonesia | Rabu, 13/04/2016 16:58 WIB
Kisah Pendiri Tokopedia dan Alibaba, Idola yang Jadi Lawan William Tanuwijaya, pendiri sekaligus CEO Tokopedia. (Dok. Tokopedia)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pendiri sekaligus CEO Tokopedia William Tanuwijaya, dalam berbagai kesempatan sering menyebut nama Jack Ma sang pendiri Alibaba Group Holding. William mengaku mengidolakan Ma karena sukses membangun kerajaan e-commerce di daratan China dan mengusir eBay dari sana.

Ketika William mengirim siaran pers tentang Tokopedia yang mendapat suntikan dana dari Softbank Ventures Korea pada 11 Juni 2013, dia sempat membawa nama Alibaba dalam pengantarnya. Dia sebut bahwa Softbank adalah salah satu investor awal Alibaba.

"Di tahun 2012, Alibaba telah berhasil menjadi perusahaan e-commerce nomor 1 di dunia (melampaui eBay digabung dengan Amazon)," demikian penggalan pengantar siaran pers yang ditulis sendiri oleh William kepada jurnalis.

Masih dalam pengantar yang sama, William melanjutkan bahwa walau keduanya dapat investasi dari Softbank, tetapi tidak ada hubungan antara Tokopedia dan Alibaba.

Pendiri Alibaba Group Holding, Jack Ma. (REUTERS/Shannon Stapleton)
"Seandainya Alibaba memutuskan untuk masuk ke Indonesia, Tokopedia bertekad untuk mampu mengalahkan mereka, menjadi tuan di rumah sendiri, seperti apa yang Alibaba berhasil lakukan di China dalam mengalahkan eBay," tulis William.

Melalui Taobao di China, Ma mengibarkan "bendera perang" dengan eBay dalam segala hal. Ma sering memberi pukulan kepada eBay, walaupun Taobao memiliki sumber daya jauh lebih sedikit dari eBay. Ma bahkan menolak tawaran kerja sama dengan eBay yang waktu itu dipimpin Meg Whitman sebagai CEO.

"Jika kita tidak memiliki musuh di dalam hati kita, kita akan terkalahkan," kata Ma seperti dikutip dari Business Insider.

Sampai pada akhir 2006, eBay memutuskan menutup situsnya di China dan hal ini sering diartikan sebagai kemenangan Alibaba atas eBay.


Apa yang sempat ditulis William pada 2013 itu menjadi kenyataan tiga tahun kemudian. Pada 12 April 2016, Alibaba membeli mayoritas saham Lazada Group senilai US$1 miliar dari total valuasi perusahaan Lazada US$1,5 miliar.

Raksasa e-commerce China itu memberi suntikan dana baru US$500 juta ke Lazada, dan mencaplok sebagian besar saham milik investor lawas. Saham investor sebelumnya di Lazada kini hanya tersisa Rocket Internet sebesar 8,8 persen, Tesco sebesar 8,3 persen, dan Investment AB Kinnevik masih 3,6 persen.

Langkah tersebut menandai operasional Alibaba di Indonesia dan negara lain di Asia Tenggara. Hari ini Lazada masih bernama Lazada, tetapi bukan tidak mungkin nama itu akan berubah setelah Alibaba membeli saham lain di Lazada yang masih dipegang investor lama.

Komodo vs Buaya

Ketika ditanya apakah ia masih mengidolakan Ma sampai hari ini? William menjawab, "Masih." "Pesaing itu bisa jadi role model." Ia yakin pemenang dalam bisnis e-commerce adalah mereka yang memberi layanan dan produk terbaik bagi orang Indonesia.

Dan sejauh ini, data dari App Annie dan SimilarWeb menunjukkan Tokopedia masih menjadi aplikasi dan situs e-commerce paling populer di Indonesia.

Soal kehadiran Alibaba di Indonesia, William memberi jawaban dengan mengutip kata-kata yang sempat disampaikan Ma kepada eBay.

"Jack Ma pernah berkata kepada eBay bahwa eBay adalah hiu di laut, dan Alibaba adalah buaya di sungai Yangtze. Jika hiu berkelahi dengan buaya di lautan, buaya akan kalah, tetapi jika mereka berperang di sungai, buaya akan menang."

"Saya katakan hari ini, bahwa Tokopedia adalah Komodo di negara kepulauan 17.000 pulau. Pertempuran di sungai, komodo akan kehilangan, tetapi pertempuran di hutan di salah satu pulau kita, komodo memiliki kesempatan yang cukup baik untuk menang."


Sampai hari ini, William berkata ia telah "berhasil" karena "akhirnya bisa head-to-head dengan Alibaba di Indonesia. Pastinya sangat bangga."

Ini seperti mimpi yang jadi nyata bagi William. Kerja keras yang menjadi nyata. "Bekerja sampai idola Anda menjadi rival Anda," katanya kepada CNNIndonesia.com.

William percaya bahwa generasi masa kini adalah generasi paling beruntung di dunia. Di era Internet, semua orang, bahkan underdog, memiliki kesempatan untuk menantang status quo, melawan segala rintangan. Entah bagaimana caranya bertahan hidup, untuk mencapai menang.