Eko mengaku tak cuma sekali, atau dua kali memberikan pelajaran melalui video confrence, dalam hal ini ia menggunakan platform Skype dari Microsoft.
"Seperti yang saya lakukan, mengajar dari Borobudur langsung, kemudian pesertanya berada di sekolah yang berbeda-beda dan bisa mengakses dalam waktu yang sama," kata Eko.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi saya mengajar langusung di situ, berkeliling-keliling menunjukkan penampilan candi tersebut secara langsung sehingga anak-anak lebih tertarik. Murid-murid bisa langsung tanya jawab juga," lanjutnya.
"Di Budapest itu pesertanya bukan hanya sekolah dasar, SMP juga ada. Jadi di sana itu saya menyampaikan tentang bagaimana keadaan hongaria," lanjutnya.
Momok soal Internet lemot di pinggir kota pun diakuinya tak jadi alasan. Dari aktivitasnya memmbuat kelas virtual, Eko mengaku hanya mengkonsumsi sekitar 5 GB data setiap bulan.
Nilai positif lain, bagi Eko, untuk para murid adalah, kelas virtual memberikan suasana baru mengajar yang lebih asyik. Tak melulu belajar dari buku namun bisa lebih interaktif dengan video.
"Jadi ketika pertama diterapkan, anak-anak sudah tertarik. Masing-masing murid tidak perlu datang ke objek yang sedang dipelajari, tetapi mereka langsung mendapatkan informasi yang dibutuhkan lewat tanya jawab langsung," tutupnya.
(eno)