Lembaga riset Consumer Intelligence Research Partners (CIRP) merilis data yang menunjukan bahwa kebanyakan pengguna iPhone di Amerika Serikat kini semakin santai alias tidak buru-buru untuk melakukan upgrade gadget mereka ke versi terbaru.
Survei yang dilakukan CIRP melibatkan sebanyak 3.000 pengguna iPhone di antero Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Artinya, konsumen iPhone tidak 'kebelet' untuk segera melakukan upgrade iPhone lawas mereka.
Laju pergantian iPhone lawas ke versi baru yang semakin melambat ini berangkat dari dua alasan, menurut pendiri CIRP Josh Lowitz.
Pertama, fitur andalan baru yang inovatif di tiap iPhone anyar tidak sering disajikan oleh Apple.
Kedua, para konsumen di AS terbiasa membeli perangkat mobile mereka melalui biaya subsidi selama 2 tahun, setelah itu mereka bisa upgrade ke versi anyar.
Kini para operator di AS memaksa konsumen untuk membayar biaya ponsel secara keseluruhan.
Lowitz meyakini, keuntungan dari skema tersebut adalah pengguna bisa memperbarui ponsel pintar mereka setiap tahun dengan tukar tambah. Namun tentunya banyak konsumen yang tidak mau melakukan hal itu.
Sejatinya perusahaan seperti Apple tidak hanya bergantung pada penjualan produk dari pengguna baru, namun juga dari konsumen setianya yang melakukan upgrade perangkat lawasnya ke versi anyar.
Mengutip Cnet, sisi positifnya adalah pengguna iPhone yang sudah bergantung di ekosistem Apple akan cenderung setia pada produk-produknya. (tyo)