“Sangat tak etis yang dilakukan Indosat terhadap Telkomsel. Mereka sudah tumpang tindih antara sebagai pemain atau regulator. Kampanye yang membandingkan secara langsung dengan kompetitor itu jelas salah di etika pariwara. Soal isu monopoli, kalau memang ada sebaiknya lapor saja ke regulator, kenapa bikin gaduh dulu di media massa. Ini seperti menggiring opini publik,” sesal Ketua Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala, saat dihubungi.
Dia menambahkan, Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) melihat masalah ini secara jernih dan bisa menindak tegas pihak-pihak bermasalah dalam sengketa ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Komponen biaya interkoneksi itu tidak terlalu signifikan, dan tidak bisa dijadikan alasan, karena sebenarnya biaya interkoneksi muncul akibat adanya perbedaan coverage layanan dari para operator,” katanya.
“Tarif interkoneksi yang sesuai akan mendorong peningkatan kualitas layanan dan sebaiknya. Tarif interkoneksi yang sesuai akan mendorong operator untuk memperluas jaringannya,” katanya.
Pengamat Telekomunikasi Kalamullah Ramli menambahkan bisa saja fenomena serangan frontal yang dilakukan Indosat Terhadap Telkomsel karena panik hal yang direncanakan dalam ekspansi tak berjalan mulus.
“Kalau saya lihat keuntungan Telkomsel saat ini di luar Jawa didapat karena mereka terus membangun. Kalau kemudian mereka dominan di sana, karena yang lain tidak membangun. Istilahnya Natural Monopoli. Monopoli yang terjadi secara alamiah karena yang lain tidak membangun. Ingat ya, monopoli tak dilarang, yang dilarang itu perilaku monopoli menghambat persaingan,” tutupnya. (tyo)