Seperti dilansir Reuters, Microsoft mengkonfirmasi kabar tersebut pada Senin (11/7), setelah ramai diberitakan pertama kali pada Mei lalu. Aksi ini merupakan bagian dari rencana perusahaan untuk mem-PHK total 1.850 tenaga kerja divisi ponsel pintar.
Microsoft mengambil langkah tersebut setelah bisnisnya lesu. Pada kuartal pertama tahun ini, perusahaan hanya mampu menjual 15 juta ponsel fitur hasil kerja sama dengan unit yang sebelumnya adalah Nokia Devices and Services.
Menurut ketentuan kesepakatan akuisisi Nokia Devices and Services yang dibuat tahun 2014 silam, Microsoft memiliki hak menggunakan nama Nokia untuk ponsel pintarnya sampai dengan tahun 2024 mendatang.
Microsoft sebelumnya telah menjual unit bisnis ponsel fiturnya ke FIH Mobile yang tak lain adalah anak perusahaan Foxconn (Hon Hai Precision Industry) di Vietnam, sebesar US$350 juta atau sekitar Rp 4,6 triliun.
Dalam kesepatan ini, FIH Mobile juga mengakusisi fasilitas manufaktur Microsoft Mobile Vietnam yang berada di Hanoi.
Dalam kesepatan ini, FIH Mobile juga mengakusisi fasilitas manufaktur Microsoft Mobile Vietnam yang berada di Hanoi.
Microsoft saat ini mampu mengeruk keuntungan dari lisensi paten Android dibandingkan menjual ponsel berbasis Windows. Lebih lanjut kabar beredar, setelah menutup divisi ponsel pintar, bagian yang tersisa dari Microsoft Mobile (yang memproduksi perangkat Lumia) akan digabungkan dengan divisi Surface.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT