Pada situs nomoreransom.org, disediakan sejumlah cara untuk menghadapi dan menghindari serangan program jahat tersebut. Selain itu, ada pula beberapa alat untuk mendeteksi ransomware dan mendekripsi file yang diserang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu, dia menyambut baik kerjasama ini dan menyatakan akan berupaya sekuat tenaga untuk mengganggu skema pengerukan keuntungan para penjahat siber.
"Masalah terbesar dengan crypto-ransomware adalah ketika data penting terinfeksi dan dikunci, mereka langsung bersedia membayar," kata penelity Kaspersky Jornt van der Wiel.
Indonesia tercatat sebagai negara peringkat 13 yang paling banyak terinfeksi ransomware di Asia Tenggara dengan jumlah rata-rata 14 kasus terjadi setiap hari, menurut riset yang dilakukan perusahaan peranti lunak antivirus Symantec.
Program jahat yang masuk dalam kategori ransomware, bisa bekerja seperti penculik. Ia mengunci akses korban atas data yang tersimpan di komputernya sendiri. Lalu lewat notifikasi, penjahat meminta uang tebusan berupa Bitcoin jika pengguna hendak mendapatkan akses kembali atas datanya itu.
Jika tidak dibayar, maka dokumen pengguna akan tersandera. Atau, korban harus menunggu sampai ada pihak, misalnya perusahaan antivirus, yang membuat penawar atau pembasmi ransomware tersebut.
"Bayangkan 14 kasus dalam sehari di negara dengan penduduk 2 juta jiwa. Bukankah itu sangat memprihatinkan?" kata Choon Hong Chee, Direktur Bisnis Konsumen Symantec Asia dalam presentasinya di Jakarta.