Badai besar di Jupiter dinamakan Great Red Spot. Telah berlangsung lebih dari satu abad, Great Red Spot memiliki ukuran tiga kali lipat dari Bumi.
Tim ilmuwan yang melakukan penelitian terhadap Jupiter mengatakan, Great Red Spot di Jupiter kemungkinan menjadi 'dalang' di balik titik panas misterius di Jupiter.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diketahui tim ilmuwan menggunakan emisi sinar inframerah untuk mengukur suhu atmosfer Jupiter. Dengan mengamatinya, mereka juga bisa mengukur suhu Jupiter sendiri.
Efek tersebut diyakini mirip dengan apa yang terjadi di atas pegunungan Andes di Bumi.
Great Red Spot secara resmi pertama kali diidentifikasi pada 1831 silam. Badai tersebut ternyata bertahan lama, dan kemudian banyak yang meyakini bahwa Great Red Spot telah ditemukan lebih dulu pada 1665 oleh astronom Italia, Giovanni Domenico Cassini.
Cassini sendiri menjadi inspirasi bagi pesawat antariksa Cassini-Hyugens hasil pengembangan NASA, ESA (Eropa), dan ASI (Italia) untuk menjelejah Saturnus. (adt)