Rudiantara berkata saat ini Google sedang proses meminta izin menerbangkan balon di kawasan udara Indonesia kepada Kementerian Perhubungan, karena harus ada aturan jelasnya soal lalu lintas udara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Wilayahnya nanti ditentukan bersama operator, Telkomsel mau di mana, Indosat di mana, XL di mana,” jelasnya.
Balon ini berbeda dari balon pada umumnya yang mudah menyusut atau diledakan hanya dengan tusukan jarum. Bagian yang menampung udara pada balon terbuat dari lembaran plastik polyethylene yang ringan dan fleksibel, namun kuat.
Balon itu bisa bertahan selama 150 hari di angkasa, dan sebelum ia diturunkan Google akan menerbangkan balon lain sebagai penggantinya agar tetap bisa menyebarkan akses Internet.
Google menyediakan perangkat radio pemancar di balon udara. Google mendesain sendiri radio pemancar agar tahan terhadap hujan, angin, sampai cuaca ekstrem.
Tiap balon akan memancarkan koneksi nirkabel ke permukaan Bumi dengan jangkauan 40 kilometer dari tempat balon tersebut berada. Jaringan 4G LTE yang disalurkan ke Bumi itu dimiliki dan dioperasikan oleh tiga operator yang telah bermitra dengan Google Loon,
Ide utama dari kesepakatan antara Google dan Telkomsel, XL Axiata, serta Indosat selaku tiga operator besar Indonesia, berangkat dari sulitnya menjalankan kabel serat optik atau mendirikan menara seluler di kawasan terpencil yang penuh dengan gunung dan hutan.
(tyo)