Justin Uberti, Principal Software Engineer Google Duo, dalam keterangan resmi mengatakan panggilan video merupakan pengalaman berkomunikasi yang paling mirip dengan bertatap muka. Hanya saja, panggilan video kerap membuat frustasi pengguna karena keluhan koneksi dan perangkat pendukungnya.
“Kami berharap kekhwatiran mengenai apakah panggilan sudah tersambung atau apakah kerabat Anda menggunakan jenis perangkat yang sama sudah tidak ada lagi. Duo dibuat dengan desain yang 'ramah' dan efisien dalam hal penggunaan bandwidth data,” kata Justin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, hingga berita ini ditayangkan, aplikasi Duo masih dalam daftar tunggu baik di Google Play Store kawasan Indonesia. Sementara di Apple App Store kawasan Indonesia belum tersedia.
Berbeda dengan Hangout yang teritegrasi dengan akun Gmail, Duo mengandalkan daftar nomor telepon. Pengguna hanya perlu mendaftar dan semua kontak dalam ponsel akan otomatis tersinkronisasi.
Kemudahan lain yakni pada desain yang 'ramah' dan efisien. Pengguna bisa menggunakan fitur 'KnockKnock' untuk melihat siapa penelpon sebelum menjawab panggilan tersebut.
Salah satu perhatian besar yang ditekankan Google yakni pada faktor keamanan dan privasi. Perusahaan memastikan semua panggilan di aplikasi telah dienkripsi dari awal hingga akhir (end-to-end encrypted).
Salah satu keluhan utama panggilan video yakni besaran bandwidth yang dipakai. Dalam studi yang sama Google mendapati 81 persen pengguna panggilan video di Indonesia mengeluhkan koneksi Internet yang tidak stabil. Sementara 25 persen lainnya merasa kalau pengalaman menggunakan panggilan video akan berbeda jika menggunakan jenis ponsel yang berbeda.
Untuk mengakomodir keluhan koneksi, perusahaan asal Mountain View ini memastikan kualitas panggilan video akan tetap berfungsi meski saat koneksi internet lambat. Kualitas panggilan akan berubah mengikuti jaringan, meski bandwidth terbatas dan resolusi gambar dipastikan akan tetap mulus.
(evn/adt)