Meski menuai pro kontra, Senior Market Analyst Client Devices IDC Indonesia Reza Haryo menilai hal tersebut sebagai tamparan kerasa bagi perusahaan sekelas Samsung. Meski begitu, keputusan untuk mempensiunkan Galaxy Note 7 sebagai langkah tepat.
"Recall jilid kedua yang berujung pada penarikan dan pensiun dini Note 7 menjadi kewajiban Samsung demi menjaga brand secara keseluruhan," ungkap Reza kepada CNNIndonesia.com melalui surat elektronik yang diterima.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski insiden ini terjadi pada lini bisnis ponsel, namun Reza mengungkapkan upaya mempertahankan reputasi perusahaan dari potensi penurunan kepercayaan konsumen jauh lebih penting.
Spekulasi yang beredar menyebut insiden ini akan berimbas pada keputusan Samsung untuk mempercepat kemunculan Galaxy S8 demi mengisi kekosongan produk flagship.
Reza memastikan, apabila spekulasi yang beredar ini terbukti benar, maka Samsung tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama seperti yang ditemui pada Galaxy Note 7.
"Kalau memang spekulasi yang beredar benar, diharapkan Samsung tidak terburu-buru dan lebih mengutamakan menyelesaikan proses pengembalian selain memperbaiki reputasi agar flagship mereka selanjutnya bisa kembali diterima oleh konsumen," ungkapnya.
Langkah penghentian penjualan dan produksi Galaxy Note 7 dilakukan setelah adanya penarikan 2,5 juta unit perangkat yang dipasarkan di 10 negara. Meski Samsung sudah kembali menggulirkan perangkat 'versi aman' pada Oktober, tetapi sejumlah konsumen kembali melaporkan adanya masalah pada baterai pada unit pengganti.
Akibat insiden ini, perusahaan finansial Credit Suisse memprediksi kerugian yang dialami Samsung mencapai US$17 miliar atau sekitar Rp221 triliun, yang berarti Samsung mengalami kehilangan penjualan sebanyak 19 juta unit dari siklus produk Galaxy Note 7 ini. (evn)