Seperti dilansir dari Detikcom, Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Ai-X1 yang terbang dengan memanfaatkan balon udara sebagai transportasi pengangkut ke lapisan stratosfer melepaskan diri di ketinggian 19 km. Ketinggian itu jadi pencapaian paling tinggi dari beberapa kali peluncuran yang telah dilakukan sebelumnya.
"Sebenarnya kalau disebut sampai di stratosfer atau tidak itu relatif ya. Stratosfer itu kan yang mulai dari 8-10 km juga ada ya. Jadi kalau ditanya lagi sudah sampai stratosfer atau tidak, ya dari beberapa percobaan kemarin bisa dibilang sudah," ujar Azhar melalui sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nasib kurang baik menimpa kedua usaha peluncuran itu sehingga misi mengarungi stratosfer di ketinggian 30 km tak tercapai.
Laporan Detikcom di lokasi peluncuran di Balai Uji Teknologi Lembaga Antariksa Penerbangan Nasional (LAPAN) di Pamengpeuk, Garut, menyebut pesawat mendarat tak jauh dari lokasi peluncuran. Sampai saat berita ini ditulis pun, pesawat produksi AeroTerrascan masih belum ditemukan.
"Tim kami masih menganalisis trouble yang terjadi. Dugaan sementara ada gangguaun pada GPS yang membuat pesawat jatuh tidak tepat pada titik peluncuran," kata Aji Pasha, Bagian Humas Ekspedisi Menembus Langit di lokasi peluncuran.
Dikonfirmasi di waktu terpisah, Azhar juga mengaku belum mendapat laporan terkait nasib Ai-X1."Kita juga masih dalam pencarian. Kita juga sedang memproses data-data yang masuk dari pesawat," aku Azhar.
Menembus Langit merupakan sebuah proyek kolaborasi yang bertujuan utama mengembangkan penelitian di bidang aeronautika, penerbangan, serta meteorologi. Pesawat yang dapat dikategorikan ulang-alik (return to home) itu ditujukan untuk merekam data sebanyak-banyaknya mengenai kondisi atmosfer melalui berbagai sensor dan kamera yang tersemat di tubuhnya.
Hasil data tersebut selanjutnya akan dibagi dengan sejumlah universitas yang tertarik untuk meneliti lebih jauh temuan mereka.