"Yang pasti jaringan CDMA tetap aktif sampai pelanggan terakhir kita menggunakannya," ujar Munir.
Pernyataan itu merupakan jawaban Munir terhadap antisipasi jika target migrasi pelanggan Smartfren dari jaringan 3G ke 4G LTE tidak terpenuhi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut keterangan Smartfren hingga kuartal III 2016, jumlah pelanggan yang beralih ke LTE telah mencapai angka 4 juta. Jumlah itu jauh melampaui target mereka tahun ini yang hanya berkisar di angka 2 juta pelanggan.
Meski demikian, sisa 8 juta pelanggan di jaringan 3G dari keterangan Munir didominasi oleh pelanggan asal Pulau Jawa yang notabene hampir seluruh wilayahnya telah diselimuti LTE.
"Di kota-kota Sumatera semuanya sudah pindah ke LTE kecuali Medan. Nah, kalau di Jawa masih banyak banget yang belum pindah," kata Munir.
Smartfren yang memiliki 11 juta pelanggan saat ini merupakan satu-satunya operator seluler yang sebagian layanannya masih berjalan di jaringan 3G.
Migrasi tersebut merupakan tindak lanjut dari regulasi Peraturan Menkominfo tentang Penataan Pita Frekuensi Radio 800 MHz untuk Keperluan penyelenggaraan Jaringan Bergerak Seluler.
Hal itu terjadi setelah Smartfren diminta pemerintah menyerahkan pita frekuensi selebar 13,75 MHz di frekuensi 1,9 GHz yang digunakan untuk CDMA. Sebagai gantinya Smartfren memperoleh pita frekuensi selebar 30 MHz di jaringan 2,3 GHz.
Smartfren menargetkan proses migrasi pelanggannya ke jaringan 4G LTE bisa rampung pada akhir 2017 mendatang.