Hanya saja, fitur tersebut kali ini justru menjadi pemicu ketakutan dan kemarahan warga Thailand. Pasalnya, Facebook menciptakan peringatan mengenai ledakan di Bangkok yang dipertanyakan kebenarannya.
Insiden ledakan yang terjadi di Bangkok menurut fitur keamanan Facebook diaktifkan lantaran telah dikonfirmasi oleh 'beberapa sumber'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pengguna merasa heran lantaran saat membuka laman fitur Safety Check tidak ada rincian informasi terkait mengenai insiden tersebut. Facebook justru memberikan informasi mengenai insiden pengeboman yang telah lampau pada Agustus 2015 lalu dan menewaskan 20 orang.
Warga Thailand merasa berang dan mengkonfirmasi mereka dalam keadaan aman. Facebook pun akhirnya menon aktifkan fitur Safety Check tersebut tepat sejam setelah menuai banyak kritikan dan tuntutan dari netizen di Negeri Gajah Putih tersebut.
Prasit Silhanisong salah satu pengguna Facebook menganggap berita palsu yang dikeluarkan Facebook menghancurkan citra baik Thailand.
"Momen jelang perayaan Tahun Baru ini bisa saja membuat wisatawan batan berkunjung ke Thailand," ungkapnya seraya menuntut Facebook melakukan permintaan maaf secara terbuka.
Lihat juga:Media Sosial dan Tren Sesaat Om Telolet Om |
Alih-alih meminta maaf atas insiden tersebut, Facebook berkilah peringatan tersebut diaktifkan lantaran adanya laporan mengenai bahan peledak yang dilemparkan oleh pengunjuk rasa saat berdemonstrasi di dekat Gedung Parlemen pada Selasa (27/12).
"Fitur Safety Check diaktifkan menyusul adanya ledakan di Thailand kemarin. Pihak ketiga yang kami percaya telah mengkonfirmasi insiden tersebut," ungkap juru bicara Facebook dalam sebuah pernyataan.
Kejadian yang dilakukan Facebook tentu berbanding terbalik dengan upaya perusahaan untuk meredam penyebaran berita hoax yang belakangan membanjiri lini masa. Sebelum insiden memalukan di Thailand, kesalahan serupa terjadi pada Maret lalu ketika Facebook mengklaim adanya serangan bug ketika fitur ini tiba-tiba mengirimkan pemberitahuan keselamatan kepada pengguna di seluruh dunia menyusul insiden bom bunuh diri mematikan di Pakistan.
Sementara itu, Facebook sempat dikecam karena dianggap 'pilih kasih' saat absen mengaktifkan fitur peringatan keamanan ketika terjadi serangan di Beirut. Namun fitur tersebut otomatis aktif ketika terjadi serangan mematikan yang menimpan Paris. (evn)