Semenjak insiden Galaxy Note 7 pada Oktober lalu, analis memperkirakan Samsung akan sulit pulih dalam waktu dekat. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Penjualan chip Samsung dan beralihnya konsumen ke S7 sebagai pengganti kekosongan Note 7 di pasar menjaga kondisi Samsung di pasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama periode Oktober-Desember, Samsung berhasil mengantiongi keuntungan 9,2 triliun won atau setara Rp103 triliun. Ini merupakan angka tertinggi sejak kuartal tiga 2013 dan melampaui ekspektasi analis dan survei pasar.
Ada sejumlah faktor yang membuat kenaikan profit Samsung melambung tinggi. Salah satunya adalah meningkatnya permintaan memory chips dan layar yang dipasok Samsung ke berbagai vendor ponsel, termasuk kepada Apple yang menjadi rival utama mereka. Itu mendorong nilai saham Samsung naik sampai 43 persen.
Melemahnya mata uang Won terhadap dollar Amerika Serikat juga dihitung sebagai faktor pendongkrak profit perusahaan Korea Selatan ini. Sebab kebanyakan transaksi mereka menggunakan dollar AS. Pada kuartal empat lalu saja Won melemah hingga 8,8 persen.
Produsen barang elektronika terbesar ini diperkirakan memperoleh profit lebih dari 4 triliun won untuk penjualan chip saja selama Oktober-Desember. Namun estimasi detail resmi pendapatan Samsung tak akan keluar hingga akhir Januari nanti. (evn)