Teknologi yang akan diuji coba ini diberi nama Massive Multi Input Multi Output (MIMO) Base Station dan Multi-Antenna Space Division Multiple Access (SDMA). Teknologi ini mengedepankan fungsi antena yang mampu memberi kapasitas koneksi lebih besar.
"Sekarang kita trial dulu teknologi baru ini. Massive MIMO jadi gerbangnya ke jaringan 5G," ucap Vice President Special Project Network Smartfren Munir Syahda Prabowo di kantor Smartfren, BSD, Tangerang Selatan, Senin (16/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal ini membuat kapasitas dan kecepatan koneksi yang akan diterima oleh perangkat mobile lebih mantap, karena 'pintunya' banyak sehingga terhindar dari penumpukan trafik.
"Setinggi-tinggi cat ponsel saja, kalau sesuai bisa sampai 400 Mbps untuk download," sambung Munir.
Pun begitu dengan antena ponsel yang tersedia. Saat ini kebanyakan ponsel pintar masih menggunakan antena 2x2. Munir berharap ke depannya akan lebih banyak ponsel yang meningkatkan antena agar performa lebih bagus.
Di tempat yang sama, Group Chief Technology Officer Christian Daigneault turut menuturkan, teknologi Massive MIMO ini tidak perlu pembangunan menara baru, melainkan tinggal 'ditempel' di BTS yang sudah ada.
Yang jelas Massive MIMP ini baru bisa dipakai di jaringan TDD LTE saja.
"FDD mungkin baru bisa dalam satu atau dua tahun ke depan," tuturnya.
Uji coba yang sudah berlangsung sejak Januari ini baru dipasangkan di tiga lokasi, yakni dua di Surabaya dan satu di Jakarta.
"Ini baru percobaan, di kuartal tiga baru kami pasangkan di spot yang crowded alias banyak orang, seperti mal," imbuhnya.
Pre-5G Marketing Director ZTE Li Jiacheng mengklaim bahwa Massive MIMO ini mampu menjangkau area sejauh lima kilometer, serta ketinggian 30 lantai atau setara 100 meter.
"Keuntungan bagi pelanggan coverage jadi lebih luas, di dalam gedung juga bisa terasa lebih kuat. Daya tahan baterai ponsel juga bisa lebih lama karena ponsel tak perlu bekerja keras untuk menerima sinyal saat di dalam gedung," lanjut Daigneault.