Itu artinya Uber kehilangan 200 ribu akun hanya dalam kurun enam hari sejak protes bermula pada Sabtu (28/1).
Dampak negatif dari kampanye #DeleteUber sangat memukul perusahaan pimpinan Travis Kalanick ini. Setelah dikecam berbagai pihak karena bergabung di dewan penasihat ekonomi Presiden Donald Trump, CEO Uber Travis Kalanick akhirnya mengundurkan diri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kekecewaan pegawai Uber tertangkap dari dokumen setebal 25 halaman di Google Docs yang berjudul "Letters to Travis" yang diterima The New York Times. Dokumen itu berisi ketidakpuasan pegawai Uber atas kepemimpinan Kalanick.
Lihat juga:Aksi #DeleteUber Bikin Lyft Populer |
Imbas kampanye #DeleteUber terhadap bisnis Uber terlihat jelas. Tak lama kampanye itu bermula, aplikasi Lyft, kompetitor utama Uber di AS, melesat di daftar unduh terbanyak di App Store.
Kalanick sempat berdalih keputusannya bergabung di dewan penasihat ekonomi Trump tidak berarti dirinya mendukung sang presiden.
"Bergabung dengan mereka tidak berarti saya mendukung presiden atau agendanya, namun sayang disalahartikan demikian," keluh Kalanick.