Alasan Tarif Telkomsel di Indonesia Timur Mahal

Susetyo Dwi Prihadi , CNN Indonesia | Sabtu, 11/02/2017 06:34 WIB
Alasan Tarif Telkomsel di Indonesia Timur Mahal
Jakarta, CNN Indonesia -- Masih ada perbedaan tarif Telkomsel antara yang berada di Pulau Jawa dengan Kawasan Indonesia Timur, bukan tanpa sebab. Menurut Direktur Utama Ririek Adriansyah, ada beberapa hal tersebut bisa terjadi.

Saat berbincang kepada sejumlah media di Ambon, Maluku, Ririek mengatakan banyak hal dalam menentukan tarif, salah satunya adalah komponen cost yang dikeluarkan di satu wilayah. Apalagi di Indonesia Timur, masih jaringan yang disambungkan melalui satelit, padahal satelit cenderung lebih mahal.


“Kita sadari tarif di Indonesia Timur mahal, namun kita sudah berusaha agar membatasi tarifnya tidak jauh berbeda. Saat ini, kita sulit meminta agar tarif itu bisa flat seperti BBM (Bahan Bakar Minyak),” kata Ririek.

Seperti diketahui, Presiden Jokowi memerintahkan agar harga Bahan Bakar MInyak di Indonesia Timur, salah satunya Papua, dipatok sama dengan ada yang di Pulau Jawa.

Ririek menjelaskan,” Kenapa tidak bisa flat seperti BBM, karena telekomunikasi ini bukan dimonopoli oleh satu perusahaan dan tidak disubsidi.”

Di masa depan, mungkin tarif Telkomsel akan turun seiring mulai didorongnya pembangunan kabel laut. Namun itu tak lantas akan membuat serta merta presentase penurunan signifikan.


Dia mengatakan, sebetulnya bila dibandingkan dengan negara lain, tarif telekomunikasi di Indonesia masuk nomor ketiga termurah dibandingkan negara lain. Termasuk, bila komponen tarif dikombinasikan dengan daya beli suatu negara, Ririek bilang Indonesia masih termurah.

“Di dunia ini pabrikan perangkat telekomunikasi hanya lima, dan itu-itu saja. Itukan memengaruhi dari segi komponen cost. Tapi sebetulnya, tarif murah itu bisa jadi bumerang,” katanya.

Ririek mengatakan, bila terlalu sering mengumbar tarif murah perusahaan telekomunikasi tidak meraih keuntungan—atau untung sedikit, yang membuatnya menjadi tak suistable. Ujung-ujungnya, bila tak menguntungkan akan ditinggalkan.

Saat ini industri telekomunikasi harus dipahami oleh pemerintah agar tak didorong hanya tarif murah saja.

“Ini harus clear dari pemerintah, jangka panjang tidak bagus kalau tarif murah saja. Mungkin yang perlu diedukasi bukan tarif turun, namun dari sisi komponen cost. Pemerintah bisa mengurangi pungutan atau memberikan insentif,” katanya.

“Mungkin kalau dipangkas, pemasukan satu sisi akan turun, namun pemerintah harus berpikir ekonomi akan naik, maka pemasukan lainnya akan tumbuh. Itu yang harus ditekankan,” tandasnya.