Program pengawasan pilkada oleh Qlue bersama Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) sedianya ditujukan ke 31 kota. Namun upaya mereka tak tercapai, lantaran hanya satu persen laporan pilkada di luar wilayah Jakarta.
Ketua Kebijakan Strategis Mastel Teguh Prasetya menyebut ada dua alasan tingkat partisipasi warga Jakarta selama pilkada yang cukup tinggi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aduan warga Jakarta melalui Qlue banyak dan bervariasi. Selama masa kampanye misalnya, pelanggaran atribut kampanye mendominasi laporan. Sekitar 83,1 persen dari total laporan mempermasalahkan atribut kampanye. Masa tenang jadi periode paling ramai pelanggaran jenis ini.
Qlue dan Mastel juga mencatat wilayah Jakarta Barat menyumbang laporan dugaan pelanggaran terbanyak sejumlah 35 persen, disusul Jakarta Selatan 24,7 persen, dan Jakarta Timur 17,8 persen.
Dengan temuan ini, Qlue dan Mastel bermaksud menyerahkannya ke Bawaslu sebagai bagian evaluasi pilkada. Sebab laporan yang mereka kumpulkan perlu ditindaklanjuti Bawaslu untuk menentukan benar terjadi pelanggaran atau tidak.
Kendati begitu, mereka berdua sepakat aduan terkait pilkada melalui platform mereka lebih terpercaya ketimbang di media sosial lainnya.
"Kami bisa bilang akurasinya lebih terjamin," imbuh Teguh.
Pasalnya untuk membuat laporan di Qlue, pengguna hanya bisa melampirkan foto yang diambil secara real time. Qlue juga menangkap lokasi laporan itu dibuat.
Chief Marketing Officer Qlue Ivan Trigana berharap di putaran kedua pilkada Jakarta nanti jumlah laporan pelanggaran bisa menurun.
"Di putaran dua kan kandidatnya tinggal dua, jadi semoga turun ya," ucap Ivan.