Awal Maret lalu, dikutip dari CNN, Facebook mengumumkan mulai menguji coba penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence) untuk mengidentifikasi potensi penggunanya menyiarkan unggahan soal “bunuh diri atau melukai diri sendiri” yang dilihat berdasar dari pola unggahan sebelumnya.
Namun sayangnya, uji coba itu baru terbatas dilakukan di Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“PENTING: Jika Anda mengetahui ancaman bunuh diri di Facebook, segera hubungi penegak hukum atau saluran bunuh diri. Jika orang yang Anda khawatirkan adalah anggota komunitas militer AS, pastikan untuk menyebutkan hal ini agar mereka dapat memberikan bantuan khusus pada orang ini,” bunyi pernyataan di laman laporan konten mengenai bunuh diri Facebook.
“Sudah terjadi beberapa insiden tragis—seperti bunuh diri, beberapa disiarkan langsung—yang mungkin bisa dicegah jika seseorang menyadari apa yang terjadi dan melaporkannya dengan cepat,” kata CEO Facebook, Mark Zuckerberg pada Januari lalu.
Beberapa insiden bunuh diri pernah terjadi di AS sebelumnya, yang terbaru dilakukan oleh bocah perempuan berusia 12 tahun asal Cedartown, Georgia, AS yang menyiarkan aksi bunuh dirinya lewat Live.me, layanan yang mirip dengan Facebook Live.