Dua produk ini dikenalkan untuk menyasar konsumen berbeda. Ezviz S1C ditujukan untuk pengguna pemula (entry-level) dengan segmen pasar menengah bawah. Sementara S5 ditujukan sebagai kamera aksi untuk segmen menengah atas.
Tak heran jika Ezviz S1C dibanderol dengan harga cukup terjangkau, Rp850 ribu. Berbeda dengan Ezviz S5 yang dijual lebih mahal, Rp1,65 juta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Ezviz S5 sudah bisa merekam video 4K di 5 fps dengan kamera beresolusi 16MP. Kamera ini menggunakan chipset Ambarella, sensor Panasonic, foto 16MP, layar sentuh 2" berteknologi IPS.
Marketing Manager Hikvision Indonesia, Indah Rosa Sitepu, yakin bahwa fitur tersebut mampu membawa produknya menembus pasar kamera aksi di dalam negeri. "Dengan fitur yang ada, kami adalah yang paling ekonomis dibanding pemain lain," ujar Indah, Rabu (24/5).
Indah mengatakan keputusan mereka terjun ke pasar Indonesia bukan tanpa alasan. Faktor gaya hidup masyarakat yang kian lekat dengan lensa kamera di hampir segala aktivitas jadi sebabnya.
"Di Indonesia memang tidak banyak olahraga ekstrem seperti ski salju di luar. Tapi, gaya hidup masyarakat dan jaringan internet yang makin bagus jadi peluang bagi kami," tutur Indah. Indah menyebut kamera aksinya akan segera dijual mulai 5 Juni melalui situs dagang online.
Kehadiran Ezviz sendiri akan makin memanaskan persaingan pasar kamera aksi di Indonesia. Nama-nama seperti GoPro, Xiaomi, Brica, dan Sony sudah lebih dulu menghuni benak masyarakat.