Terjangan GoldenEye pertama kali terjadi di Ukraina dan lalu menyebar ke belahan dunia lain termasuk Inggris, India, dan Spanyol.
Pakar keamanan TI dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, mengatakan penyebaran GoldenEye sangat cepat. Sejauh ini virus tersebut terlihat menyerang jaringan infrastruktur, mesin produksi dan mesin layanan seperti mesin ATM.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ransomware WannaCry sempat menyerang berbagai negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa) |
"Jadi GoldenEye hanya membutuhkan satu komputer yang memiliki hak administrator untuk dieksploitasi dan jika berhasil, maka seluruh komputer di dalam jaringan yang dikelolanya akan diinfeksi dengan kredensial administrator curian tersebut melalui fitur WMIC dan PSExec," kata Alfons.
Alfons menuturkan, faktor lain yang membuat GoldenEye lebih menakutkan dari WannaCry adalah ia tak mengeksploitasi celah keamanan di komputer. Jadi sekalipun sistem sebuah komputer telah dimutakhirkan, ia tetap bisa menginfeksinya.
"Dan celakanya, sistem komputer yang diinfeksi oleh GoldenEye tidak hanya akan dienkripsi, tetapi seluruh sistemnya akan dilumpuhkan alias tidak bisa dinyalakan (booting)," ujarnya.
Ia juga menyebut penyebaran GoldenEye bisa terjadi lewat surat elektronik (email). Ketika konten mencurigakan berisi ransomware itu dibuka oleh pemilik email, maka bisa dipastikan komputernya terinfeksi.
"Akibatnya jika komputer yang terinfeksi melayani fungsi penting seperti mengendalikan mesin atau layanan tertentu, maka layanan tersebut akan terhenti karena komputer korup," Alfons menjelaskan.
Sama seperti WannaCry yang tergolong ke dalam ransomware, GoldenEye mewajibkan korbannya untuk membayar tebusan. Pada kasus ini GoldenEye meminta korban mentransfer uang senilai US$300 dalam bentuk BitCoin. Selama tidak ditebus, virus akan mengunci seluruh data di komputer terinfeksi.
Sejauh ini menurut Alfons belum ada laporan serangan GoldenEye di Indonesia. Namun ia meminta pemilik komputer berbasis Windows berhati-hati. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah melakukan backup data ke medium offline atau ke layanan cloud.
Ransomware WannaCry sempat menyerang berbagai negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. (ANTARA FOTO/M Agung Rajasa)