Laporan terbaru menunjukkan wahana Juno telah berhasil melaksanakan misinya. Sejumlah foto Great Red Spot dari jarak dekat berhasil ditangkap wahana itu.
Foto tersebut menampilkan permukaan badai berwarna merah kecoklatan secara penuh untuk pertama kalinya.
Foto tersebut menampilkan permukaan badai berwarna merah kecoklatan secara penuh untuk pertama kalinya.
Gambar ini berhasil ditransmisikan oleh wahana Juno ke pusat pengamatan NASA. Kini gambar tersebut telah dibuka oleh NASA ke publik.
Juno telah diberangkatkan menuju Jupiter hingga jarak 3.540 kilometer di atas planet terbesar di tata surya itu pada Senin (10/7) lalu.
"Salah satu tujuan ini adalah mendapatkan sejumlah gambar spektakuler dari jarak dekat," ujar Dr. Jared Espley, ilmuwan dalam program Juno.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, tujuan lain dari misi Juno mendekati Great Red Spot adalah mencari tahu proses pembentukan medan magnet hingga menjadi atmosfer. Hal itu tak kalah penting karena hingga saat ini belum diketahui riwayat pembentukan atmosfer seperti yang ada di Bumi.
Para astronom terdahulu menemukan badai ini di sekitar tahun 1665 hingga 1713. Namun baru sejak 1830, Great Red Spot menjadi objek pengamatan rutin para peneliti antariksa.
"Pada dasarnya Great Red Spot badai terbesar di seluruh sistem tata surya," kata Scott Bolton, pemimpin program Juno kepada NPR.
Penerbangan Juno mendekati Great Red Spot menjadi untuk menyelidiki mekanisme kerja badai dari dalam. Selain itu, misi Juno kali ini juga yang pertama kali dalam sejarah bahwa sebuah wahana antariksa terbang langsung menuju Great Red Spot.
Penerbangan Juno akan ikut dinikmati oleh para astronom di Bumi, baik akademisi maupun amatir. Selama misi berlangsung, Juno tak akan bisa mengirim transmisi ke Bumi. Wahana itu diperkirakan baru bisa mengirim foto Great Red Spot ke tangan para peneliti pada akhir pekan nanti.