Bulan Miliki Air Lebih Banyak dari Perkiraan

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Selasa, 25/07/2017 15:10 WIB
Bulan Miliki Air Lebih Banyak dari Perkiraan Foto bulan mengitari bumi. Bulan dianggap memiliki kandungan air lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya. (NASA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ilmuwan di Brown University mengatakan kemungkinan masih ada air lebih banyak di Bulan. Dengan menganalisis gambar satelit, para ilmuwan berhasil menemukan bukti bahwa air terjebak di dalam "manik-manik kaca" dalam abu dan bebatuan purba yang dipancarkan gunung berapi di permukaan Bulan.

Ralph Milliken, pemimpin penelitian yang dipublikasikan di Nature Geoscience, menyatakan pada CNN bahwa interior bagian dalam Bulan basah. Temuan ini mungkin merupakan keuntungan bagi misi masa depan ke Bulan karena air berpotensi diekstraksi dari deposit vulkanik.

Meskipun manik-manik kaca vulkanik tidak mengandung banyak air, ada banyak bahan vulkanik untuk memberikan cadangan air. Beberapa bidang vulkanik ini mencakup ribuan kilometer persegi dan mungkin beberapa kilometer dalamnya.


"Ini lebih banyak air daripada yang sebelumnya diperkirakan," katanya.

Sementara itu, Milliken mengatakan temuan sebelumnya tentang air di bulan tidak diyakini berasal dari sumber asli. Pada 2009, Badan Antariksa Amerika (NASA) mengumumkan telah menemukan air di Bulan. Satu ton permukaan Bulan bisa menghasilkan 32 ons.

Para ilmuwan menduga kristal tersebut mungkin diciptakan oleh angin Matahari yang berinteraksi dengan hidrogen di dataran Bulan. Ada juga sejumlah kecil air beku di kutub Bulan.

Para ilmuwan percaya bahwa Bulan kering saat misi Apollo dimulai pada 1960-an. Pemikiran itu berubah pada 2008 ketika manik-manik kaca vulkanik yang dibawa kembali oleh misi Apollo 15 dan 17 pada 1971 dan 1972 ditemukan mengandung formasi kristal kecil yang mengandung air.

Sayangnya, tidak ada yang tahu apakah sampel Apollo itu mewakili keseluruhan bulan atau hanya tempat-tempat tertentu yang tidak biasa di permukaan yang kering. Para ilmuwan di Brown melihat lagi bayangan permukaan Bulan yang diambil dari Moon Mineralogy Mapper, sebuah spektrometer gambar yang terbang di atas pengorbit lunar Chandrayaan-1 India pada 2008.

Gambar-gambar ini menunjukkan materi yang tidak pernah diperiksa oleh misi Apollo sebelumnya. Setelah mengembangkan "koreksi termal" yang memisahkan gambar cahaya dan panas yang dipantulkan, para ilmuwan dapat mengumpulkan data yang menunjukkan bukti manik-manik kaca di hampir semua endapan vulkanik yang tersebar di Bulan.

"Persebaran deposit kaya air ini merupakan hal yang penting," kata Milliken dalam siaran persnya. "Mereka tersebar di permukaan yang memberitahu kita bahwa air yang ditemukan dalam sampel Apollo bukan hanya di satu titik saja."

Penelitian yang dibiayai NASA ini membuktikan bahwa Bulan memiliki persebaran air di seluruh permukaan Bulan sehingga dia tidak sekering yang diduga sebelumnya. Sayangnya meski sumber air baru yang ditemukan banyak, jumlah tersebut masih terbilang sedikit.

"Meskipun jumlah air yang ditemukan oleh peneliti sangat penting dalam hal pemahaman Bulan kita dan bagaimana kita memodelkan interior lunar, jumlahnya masih sangat kecil, sekitar 0,015% dari tanah," ujar Sarah Noble, ilmuwan program di Markas Besar NASA di Washington, D.C.