Jual Paket Internet Murah, Apakah Operator Untung?

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Jumat, 28/07/2017 13:21 WIB
Jual Paket Internet Murah, Apakah Operator Untung? Ilustrasi ketersediaan internet cepat di tanah air dan harganya yang dianggap terlampau murah. (Trisno Heriyanto)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seiring berkembangnya perangkat digital mulai dari ponsel pintar hingga TV pintar, layanan untuk terhubung ke internet semakin tinggi permintaannya. Penyeledia layanan telekomunikasi Indonesia pun berlomba-lomba untuk mendapatkan banyak pelanggan dari penjualan paket internet dengan harga paling terjangkau. Namun untungkah mereka dari penjualan internet saat ini?

Ketua Asosiasi penyelenggara Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza Fachys, mengungkapkan penjualan paket internet di Indonesia memang termasuk yang paling murah di antara negara-negara berkembang dan maju lainnya berdasarkan riset 2016. Padahal menurut Merza, investasi yang digelontorkan oleh operator Indonesia hampir sama dengan negara-negara tersebut.

"Indonesia ternyata memang paling murah kalau dibanding negara-negara maju. Padahal kalau bicara investasi, ke mana sih kita beli jaringan? Vendor di dunia itu isinya itu-itu aja, harganya tak akan beda," papar Merza dalam Indonesia Technology Forum yang digelar Rabu (26/7), di Jakarta Pusat.



Presdir Smartfren ini juga menambahkan bahwa ada kejanggalan dengan harga paket data internet yang saat ini beredar di pasar. Dia tidak yakin biaya layanan akan semurah itu meski sudah disubsidi operator sekalipun.

"Jadi kalau dilihat ini memang ada kejanggalan, jangan-jangan selama ini memang jualan internet kita kemurahan," tandasnya.

Sementara itu CEO Indosat Ooredoo Alexander Rusli, mengungkap bahwa pendapatan dari berjualan layanan data internet menyumbang 35 persen dari total pendapatan Indosat. Sayangnya, angka itu dinilai sudah berada di ambang tak menguntungkan bagi perusahaan.

"Kalau bicara soal pendapatan data dari total keuntungan kami, 35 persen. Karena, ada B2B dan lain-lain. Tapi memang 35 persen ini yang sekarang kelihatan ya memang sudah masuk pada taraf yang tidak menguntungkan," ungkapnya saat ditemui di acara yang sama.


Saat berbincang dengan CNNINdonesia.com, Alex juga mengatakan bahwa sesungguhnya hal tersebut tidak hanya dialami Indosat bahkan semua operator. Hanya saja ada yang bersedia mengaku ada yang masih mampu memberikan subsidi dari bisnis lain sehingga bungkam.

Alex mengakui bahwa selama ini operator tetap mencari jalan agar penjualan paket data internet tetap berjalan dengan melakukan subsidi dari bisnis lain yang lebih menguntungkan. Namun jika dibiarkan, persaingan sehat industri telko dan cita-cita ekonomi digital serta pelayanan untuk masyarakat akan menjadi taruhannya.

"Dalam jangka panjang, yang menjadi korban adalah masyarakat. Digital ekonomi kita juga bisa jadi korban. Jika kita masih menginginkan kompetisi yg sehat, itu juga dalam risiko," sambungnya.


Oleh karena itu, Indosat Ooredoo pekan lalu menyurati Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara untuk meminta penentuan tarif batas bawah yield data. Rudiantara mengatakan bahwa dirinya tak akan pernah mengeluarkan angka tarif batas bawah demi menjaga ruang kompetisi.

Pemerintah hanya akan menentukan formula tarif batas bawah layanan internet yang akan dikeluarkan sebagai pengganti PM 9 tahun 2008. Peraturan mengenai promosi seluruh layanan termasuk SMS, telepon dan internet juga akan diatur akhir tahun ini.


BACA JUGA