Bahan bakar tersebut dibuat oleh pekerja dari Perusahaan Jasa Air dan Sanitasi Nakuru. Pekerja tersebut mengeringkannya dan mengkarbonisasinya dengan serbuk gergaji 300 derajat celcius (572 derajat Fahrenheit), dan membentuknya menjadi bola yang kemudian dijual oleh Kilo.
Proses produksi juga menghilangkan patogen berbahaya dan tentu saja, bau tak sedap.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pejabat Kenya mengatakan, pada awalnya, sulit meyakinkan masyarakat setempat untuk menggunakan briket tersebut karena dibuat dengan kotoran manusia. Namun, warga Kenya saat ini, sudah mulai merangkul produk tersebut.
"Tidak ada bau, itu bisa dimasak dengan baik, api akan terbakar dengan baik. Anda bisa memasak dengan cepat dan briketnya terbakar cukup lama," kata pedagang Grace Waka, seperti dikutip dari Reuters, Senin (7/8).