"Aktivitas ancaman siber yang mengancam pengguna Apple yang diduga sebagai serangan ransomware tidak benar adanya, karena data yang berada di dalam perangkat tidak dienkripsi," ucap Yudhi dalam rilis yang diterima pada Jumat (11/8).
Sebaliknya, Yudhi melihat serangan ini memanfaatkan fitur Apple sendiri, yakni Lost Mode. Dengan fitur tersebut, pelaku bisa mengunci perangkat Apple apa saja, mulai dari iPhone, iPad, dan MacOS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ketika komputer masuk ke Lost Mode, kunci firmware ikut ditambahkan," ujar Yudhi.
Kasus peretasan ini awalnya diduga memakai ransomware karena meminta tebusan kepada pemilik perangkat sebesar US$50 dalam bentuk Bitcoin. Peretas menjamin data aman begitu tebusan mereka dipenuhi. (has)