FOTO: Mereka yang Dipandang Sebelah Mata di Pinggir Jalan

Andry Novelino , CNN Indonesia | Sabtu, 19/08/2017 17:01 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Tukang tambal ban sering kali tak dilirik sebagai opsi untuk mencari nafkah. Padahal, keberadaan mereka penting bagi para pengguna kendaraan.

<p>Tukang tambal ban ibarat oase di padang gurun saat pengendara mengalami musibah ban kendaraan di jalanan. Jasa tukang tambal ban sangat dibutuhkan ketika roda kendaraan mengalami kerusakan, seperti kurang angin, bocor maupun tersobek. (CNN Indonesia/ Andry Novelino)</p>
<p>Bisman Saleh Siregar (23), menjalani profesi tukang tambal ban sejak 2016, di depan Graha Induk KUD, Jalan Warung Buncit Raya, Jakarta. Ia melakoni pekerjaaannya dari jam 07.00 WIB sampai 23.00 WIB dengan pendapatan terbesar rata-rata Rp100 ribu per hari. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>
<p>Faisar (22), punya jam kerja lebih 'berat' karena harus melawan kantuk yaitu dari jam 16:00 WIB sampai dengan 07:00 WIB. Ia menjalani profesi sebagai tukang tambal ban sejak 2017, di Jalan Dr. Saharjo. Jakarta. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>
<p>David Purba (40) menjalani profesi sebagai tukang tambal ban secara turun menurun sejak tahun 1990, bertempat di Jalan Pasar Minggu. Jakarta. Ia melakoni pekerjaaannya 24 Jam dengan pendapatan terbesar rata-rata dari tambal ban Rp45 ribu per hari. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>
<p>Soleh (45) menjalani profesi sebagai tukang tambal ban secara turun menurun sejak tahun 1960, bertempat di Jalan Pancoran. Jakarta. Setiap hari ia rata-rata mendapatkan Rp100 ribu dengan pendapatan lain seperti jual ban mobil bisa mendapat keuntungan Rp250 ribu per hari. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>
<p>Rustam (51) menjadi tukang tambal ban sejak 1979, tapi baru mangkal pada 2012 di Halte Wira, Jalan Dr. Supomo, Jakarta. Ia punya jam kerja lebih singkat, dari 11.00 WIB sampai 20.00 WIB, dengan pendapatan terbesar rata-rata Rp50 ribu per hari. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>
<p>Awey (38) menjadi tukang tambal ban sejak 2004, di dekat Halte Halimun, Jalan Galunggung, Jakarta. Ia melakoni pekerjaaannya dari jam 11.00 WIB sampai 21.00 WIB dengan pendapatan terbesar rata-rata Rp120 ribu per hari. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>
<p>Edy (43) menjalani profesi sebagai tukang tambal ban sejak tahun 2014, di Jalan Pejaten, Jakarta. Ia juga punya 'shift malam' yaitu 17.00 WIB hinga 01.00 WIB dengan pendapatan terbesar rata-rata Rp85 ribu per hari. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>
<p>Profesi tambal ban juga bisa terkena imbas perubahan zaman setelah salah satu perusahaan aplikasi transportasi mengumumkan bahwa mereka akan memasukkan fitur bantuan tambal ban ke dalam layanan mereka. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>
<p>Jasa tambal ban darurat Green Nitrogen tersebut rencananya akan bisa diakses lewat layanan otomotif Go-Auto dari Go-Jek. (CNN Indonesia/Andry Novelino)</p>