Membandingkan Mobil Ramah Lingkungan antar Produsen Kendaraan

Rayhand Purnama, CNN Indonesia | Rabu, 23/08/2017 17:00 WIB
Sejumlah produsen berlomba memproduksi kendaraan yang diklaim ramah lingkungan. Sejauh mana kemampuan masing-masing produsen? Lexus The Entirely-New LS 500. (Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gaikindo Indonesia International Auto Show (2017), tidak melulu menjadi ajang pamer otomotif bagi produsen dengan kendaraan konvensional. Beberapa produsen, membawa hasil kreasinya dalam wujud kendaraan yang diklaim lebih ramah terhadap lingkungan, mulai mobil hibrid hingga listrik.

Dalam catatan kami, ada beberapa pabrikan dari berbagai negara yang menawarkan solusi kendaraan ramah lingkungan. Mulai dari Mercedes-Benz, BMW, Toyota serta Nissan. Namun, hampir semuanya hanya sekadar unjuk gigi dan belum memiliki niatan menjualnya di Indonesia.

Nissan


Nissan Motor Indonesia (NMI) hadir melalui sebuah mobil listrik, Nissan Note e-Power. Untuk sistem penggerak, mobil ini memakai penggerak listrik e-Power serupa dengan teknologi pada mobil listrik Nissan lainnya, Leaf.

Sama dengan LEAF, sistem Nissan e-POWER menggerakkan roda kendaraan menggunakan motor listrik yang juga didukung oleh baterai lithium-ion on-board.

Namun, tidak seperti kendaraan listrik pada umumnya, teknologi e-POWER tidak memerlukan charger eksternal, melainkan menggunakan mesin bensin berukuran kecil untuk mengisi daya baterai ketika mobil sedang dikendarai.

Mesin bensin tidak menggerakan roda kendaraan dan beroperasi hanya jika dibutuhkan. Melalui sistem tersebut, diklaim oleh Nissan dapat menghasilkan efisiensi bahan bakar lebih optimal. Adapun komponen utama dari Nissan e-Power ialah compact Lithium-ion battery, generator listrik, inverter, motor listrik dengan output tinggi, dan mesin bensin kecil.
Nissan e-PowerNissan e-Power. (Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)

Soal berakselerasi, mobil dipercaya dapat tetap diandalkan. e-POWER menghasilkan torsi sangat besar secara instan, yang kemudian meningkatkan kualitas respon dalam mengemudi sehingga menghasilkan akselerasi mulus.

General Manajer R&D NMI Masayuki Ohsugi, mengatakan bahwa mobil itu efisiensi bahan bakarnya sebanding dengan hibrid konvensional, terutama saat penggunaan kendaraan berkeliling di dalam kota.

"Pada saat pengurangan kecepatan, mesin kemudian berhenti dan daya regeneratifnya digunakan untuk mengisi baterai sampai kendaraan benar-benar berhenti. Hal ini menyebabkan tidak terjadinya pembuangan energi yang sia-sia selama pengurangan kecepatan,” kata Masayuki.

Mercedes-Benz

Pada ajang yang sama Mercedes-Benz Distribution Indonesia (MBDI) membawa dua mobil plug-in hibrid, yaitu Mercedes-Benz C 350 e dan E 350 e.

Pada Mercedes-Benz E 350 e, pabrikan asal Jerman itu mengkombinasikan transmisi Plug-in Hybrid 9G-TRONIC dan motor listrik generasi terbaru. Fungsinya, untuk memastikan konsumsi bahan bakar, kenyamanan berkendara dan dinamika terbaik.

Teknologi elektronik memungkinkan peningkatan tenaga dan torsi motor listrik untuk mencapai 65 kW (88 hp) dan 440 Nm. Mercedes-Benz E 350 e memiliki tenaga sistem dan torsi sebesar 210 kW (286 hp) dan 550 Nm. Kemajuan pada strategi operasi cerdas juga meningkatkan efisiensi Mercedes-Benz E 350 e.
Membandingkan Mobil Ramah Lingkungan Antar Produsen KendaraanMercedes Benz E350 E Plug-in Hybrid. (Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)

Berkendara secara bebas emisi dapat dilakukan hingga 33 km pada kendaraan ini, tergantung juga pada gaya menyetir masing-masing pengemudi dan kondisi sekitar.

Untuk C 350 e, dapat menggunakan moda berkendara elektrik murni dengan jarak tempuh 31 kilometer, dapat dikendarai tanpa emisi. Mesin empat silinder yang dilengkapi dengan mesin listrik, memberikan tenaga sistem sebesar 205 kW (279 hp) dan torsi 600 Nm. Mobil ini juga masih menawarkan performa kendaraan sport dengan konsumsi bahan bakar, 2,1 liter per 100 kilometer.

Dalam datanya, dari portofolio Mercedes-Benz di Thailand dan Malaysia, jejak karbon berkurang sebanyak 40 persen.

BMW

Sedangkan BMW Group Indonesia, hadir memboyong kendaraan listrik i3, setelah sejak tahun kemarin memamerkan dan menjual mobil plug-in hybrid i8.

Mobil tersebut hadir disegmen citycar dan memiliki sistem penggerak roda belakang. Bobotnya diklaim ringan, dengan tujuan keseimbangan antara sensasi berkendara, jarak tempuh hingga bobot kendaraan menyeluruh.

Untuk penggerak, mereka memakai sistem BMW eDrive, yaitu motor listrik BMW i dengan standar baru dalam kepadatan dan efisiensi daya. Motor listrik sinkron hibrida yang dikembangkan dan disematkan pada i3 dapat menghasilkan output 170 dk dengan torsi maksimum 250 Nm (184 lb-ft) sejak mobil mulai bergerak.
Membandingkan Mobil Ramah Lingkungan Antar Produsen KendaraanBMW i3. (Foto: CNN Indonesia/Rayhand Purnama Karim JP)

BMW i3 melaju dari 0 hingga 100 km / jam (62 mph) dalam 7,2 detik, setelah berakselerasi dari nol ke 60 km / jam (37 mph) hanya dalam 3,7 detik. Dengan waktu 4,9 detik untuk melaju dari 80 sampai 120 km / jam (50 - 75 mph), kendaraan ini menawarkan performa sport yang umumnya dihasilkan mobil dengan mesin konvensional serta membawa tenaga jauh lebih besar.

Dengan mesin ringkas yang dapat digunakan sebagai penambah jarak tempuh (REx) dan kapistas baterai listrik lebih besar, 94ah, menjadikan kendaraan ini dapat menempuh perjalanan sejauh 330km. Kapasitasnya diyakini BMW mumpuni bagi mobilitas di kota-kota metropolitan seperti Jakarta.

Namun, untuk harganya mobil tersebut hanya ramah dijual di negara asalnya, Jerman dengan bandrol Euro35 ribu atau bila dirupiahkan tidak mencapai Rp600 juta. Sedangkan di Singapura, harganya bila dikonvensikan dengan rupiah berkisar, Rp2,5- 2,6 milyar.

Toyota dan Lexus

Sebetulnya, Toyota Astra Motor (TAM) sudah mulai memasarkan kendaraan hibrid, yaitu Alpard dan Camry. Namun, kini TAM ingin mengenalkan dua mobil hibridnya yang belum mengaspal di tanah air, yaitu Toyota Prius Gen 4 dan C-HR.

Keduanya lahir dan merupakan generasi pertama dari platform serupa, yaitu memakai Toyota New Global Architecture (TNGA). Saat ini, baik C-HR maupun Prius Gen 4 memakai sistem hybrid yang sama, yakni Hybrid Synergy Drive.

Untuk C-HR, selain sistem hibrid, mobil tersebut juga dilengkapi motor listrik nickel metal hydride. Dengan minimnya konsumsi bahan bakar, setidaknya dalam ujicoba yang dilakukan Toyota, mobil memiliki daya jelajah sejauh 560-610 km dengan komposisi, 13-19 km per liter untuk C-HR varian mesin 1,2L dan 24-29 km per liter varian hibrid.
Membandingkan Mobil Ramah Lingkungan Antar Produsen KendaraanToyota C-HR. (Foto: Dok. toyota.co.uk)

Sedangkan Prius Gen 4, bekalnya menggendong mesin 1.800cc. Dalam pengetesannya, generasi terbaru Prius dapat mencapai 40km per liter. Mobil ini hadir dengan pilihan baterai lithium ion atau nickel hydre.

Tidak ketinggalan, rekan satu negara Toyota di Jepang, yakni Lexus juga hadir lewat sedan premiumnya, LS 500 yang salah satunya memiliki varian hybrid.

LS 500 terbaru dibekali mesin 3,500 cc twin turbo dengan transmisi 10 percepatan, yang menghasilkan 415 tenaga kuda.

"Untuk sedan LS 500 yang dipasarkan di Indonesia adalah tipe terbaik, yakni LS 500L dan LS 500 hL (hibrid). Sengaja kami memilih dua tipe terbaik saja,” kata General Manager Lexus Indonesia Adrian Tirtadjaja.

Walau demikian, hampir semuanya berpendapat serupa dengan tidak membawa mobil-mobilnya itu ke tahap penjualan. Rata-rata, mereka sepakat bila menjual di Indonesia dari regulasi perpajakan yang bakal membuat harga mobil menjadi dua kali lipat, segi infrastruktur-pun belum memadai untuk kendaraan tersebut.

Sementara, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan menghimbau kepada tiap agen pemegang merek (APM) untuk terus berpartisipasi serta memproduksi kendaraan ramah lingkungan.

"Saat ini sejumlah peserta pameran telah memamerkan produk-produk ramah lingkungan, semoga pada penyelenggaraan GIIAS selanjutnya akan semakin banyak peserta yang menghadirkan produk dari kategori tersebut," ungkapnya.

Ia melanjutkan, bahwa dengan demikian industri otomotif dapat terus diprioritaskan dan dikembangkan. Mengingat, industri otomotif beserta seluruh pendukungnya, mulai dari produksi, research and development, sales, aftersales serta segmen perawatan telah memberikan kontribusi lapangan kerja di Indonesia.
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK