'Wahana Antariksa Cassini Tak Lewati Misi Bunuh Diri'

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Sabtu, 16/09/2017 08:22 WIB
'Wahana Antariksa Cassini Tak Lewati Misi Bunuh Diri' Para ilmuwan mengatakan wahana antariksa Cassini tidak melalui misi bunuh diri. (Foto: AFP PHOTO / Robyn Beck)
Jakarta, CNN Indonesia -- Roket riset Cassini akan segera mengakhiri perjalanannya setelah 13 tahun mengamati Saturnus pada esok (16/9). Dengan kecepatan masuk yang diperkiran mencapai 120.000 km/jam, pesawat ruang angkasa tersebut akan hancur berkeping-keping di atmosfer Planet Cincin.

Meski demikian, para ilmuwan menolak mengatakan momen yang akan dilaksanakan pada Jumat pagi waktu Pasadena, California, itu sebagai tragedi, apalagi misi bunuh diri untuk Cassini. Alex Parker, astronom planet dari Southwest Research Institute di Maryland menyebut bahwa mesin itu tidak sepantasnya dianggap bernyawa.

"Saya benar-benar berharap orang akan berhenti menyebut misi Cassini berkaitan dengan bunuh diri... Saya tidak terlalu peduli bagaimana perasaan Anda terhadap misi ini. Ini mesin, dan Anda membuat sesuatu [pengandaian] yang sangat serius," cuit Parker.


Preston Dyches, juru bicara Laboratorium Propulsi Jet NASA di California, menggemakan sentimen yang sama. Dia berkata bahwa berita-berita di media sosial mengenai 'misi bunuh diri' Cassini telah menghancurkan hatinya.

"Ini menghancurkan saya, semua cerita yang menyebut akhir misi Cassini yang sekarat, bunuh diri, kematian, brutal, membunuh ... Betapapun berani, mulia dan bertanggung jawabnya akhir ini, orang masih ingin menjadikannya sebuah tragedi," tulisnya dalam beberapa cuitan.

"Tentu, [Anda bisa] melakukan antropomorfisme Cassini. Tapi jika dia adalah seseorang, Anda tidak akan membicarakan kematiannya yang akan segera terjadi dengan semangat seperti itu," sambungnya seperti dilaporkan The Atlantic.

Sementara itu, Badan Antariksa Amerika (NASA) sendiri mengaku sangat menghindari penyebutan "kematian" dalam media rilisnya. Mereka menggunakan kata "grand finale" sebagai gantinya.

"Kami mencoba dengan sangat keras untuk menjauh dari tema yang berhubungan dengan kematian, bahkan jika itu hanya metafor. Apalagi jika harus menggunakan kata bunuh diri," tulis Earl Maize, program manager Cassini.

Deskripsi pembebastugasan Cassini ini sendiri juga tidak dibuat menyedihkan, tetapi lebih ke romantis. NASA menggunakan bahasa yang halus dengan menyebutkan bahwa Cassini akan memberikan ciuman selamat tinggal pada Titan, bulan terbesar Saturnus.

"Saya setuju dengan gagasan bahwa ini adalah 'kisah cinta' - Cassini mengelilingi Saturnus sebagai seorang pengagum, mengenal planet yang bercincin ini dan mengiringinya selama 13 tahun, sebelum melemparkan dirinya ke atmosfer Saturnus untuk dilumpuhkan dalam pelukannya," ujar juru bicara Laboratorium Jet Propulsion NASA (JPL).



Judul-judul antropomorfisme yang berkaitan dengan kematian dan misi bunuh diri Cassini adalah salah satu cara untuk menarik simpati dari sifat pembaca yang memiliki emosi. Jika pun harus menggunakan kata 'bunuh' peneliti lebih setuju jika judulnya menyebut 'NASA membunuh Cassini', sebab wahana tersebut tidak bisa melakukan tugasnya tanpa perintah manusia.

Kendati demikian, judul antropomorfisme sebenarnya bukan pertama kalinya diberikan untuk pemberitaan wahana antariksa. Sebelumnya, rover Mars Curiosity juga pernah diulangtahuni seolah-olah dia manusia.

Ilmuwan meyakini penghancuran Cassini adalah solusi terbaik meski mereka memiliki pilihan untuk memarkir wahana ini di luar Tata Surya dengan sisa bahan bakarnya. Namun, ilmuwan tidak melihat kegunaan ilmiah dari langkah tersebut.

Sebaliknya, memasukkan roket ini dalam atmosfer Saturnus memungkinkan periset untuk mendapatkan beberapa data unik. Dengan mengecilkan orbit Cassini sehingga terbang di antara cincin dan atmosfer planet sejak April, para periset telah memperoleh pengetahuan baru mengenai umur cincin pada struktur internal Saturnus dan komposisi gas.

Cassini sendiri telah memberikan pandangan revolusioner pada manusia. Dia telah menyaksikan badai monster mengepung Saturnus dan melihat interaksi partikel es yang rumit bergerak melalui sistem cincinnya yang kompleks.

Selain itu, dia juga menunjukkan bahwa Titan dan Enceladus menampung sejumlah besar air cair di bawah cangkang dingin mereka. Di tempat yang sama, para ilmuwan meyakini kondisi tersebut mungkin menguntungkan bagi kehidupan sederhana.