Tim berisi empat pria dan dua perempuan ini adalah subjek penelitian NASA untuk memahami dampak psikologis yang akan menimpa manusia saat mengemban misi panjang di antariksa.
Hasilnya lumayan menggembirakan. NASA setidaknya paham bahwa konflik akan tetap terus ada meski mereka sudah menyiapkan kru terbaik di misinya.
"Jadi yang terpenting adalah memiliki kru yang tangguh secara individu dan dalam kelompok untuk menghadapi konflik dan menyelesaikannya," ucap profesor Kim Binstead dari University of Hawaii seperti dilansir dari Sky News.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka juga dihadapkan pada sejumlah situasi yang menguji mental dan emosi di setiap tugas dan permainan yang diminta oleh NASA. Pada akhirnya mereka diwajibkan menuliskan perasaannya selama melaksanakan misi sebagai data penelitian.
Semua anggota sengaja dipilih berdasarkan sifat yang berbeda. Mereka tak diizinkan berkomunikasi dengan dunia luar kecuali dengan NASA. Komunikasi keduanya pun dipasang 20 menit lebih lambat untuk menyerupai waktu yang dibutuhkan untuk mengirim sinyal dari Mars ke Bumi.
Laura Lark, salah satu peserta simulasi Mars, yakin dari pengalamannya ini mengirim manusia ke antariksa dalam waktu panjang bukan masalah.
"Tapi saya rasa mengatasi tantangan yang ada tinggal masalah kerja keras. Kita sangat mungkin melakukannya," ucap Lark.
Misi simulasi Mars ini adalah eksperimen kelima NASA di Hawaii Space Exploration Analog and Simulation (HI-SEAS). Gunung vulkanik Mouna Loa dipilih karena dinilai punya kondisi geografis paling mirip dengan permukaan Mars.