Konsorsium yang dibentuk pada 2008 itu merupakan asosiasi perusahaan teknologi yang bertujuan untuk mempromosikan platform pengisian daya nirkabel dengan standar Qi.
Apple bergabung dengan konsorsium itu pada Februari 2017. Beberapa bulan setelahnya, pada September Apple merilis iPhone 8, 8 Plus dan X yang menjadi iPhone pertama yang memiliki kemampuan pengisian daya nirkabel.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keikutsertaan Xiaomi menunjukkan bahwa ponsel pintar andalan berikutnya, Mi 7, kemungkinan besar juga akan membawa fitur ini. Mi 7 rencananya akan dirilis pada kuartal pertama 2018.
Sejauh ini, belum ada indikasi bahwa ponsel tersebut akan membawa pengisian nirkabel. Namun Xiaomi selalu kompetitif terhadap Apple dan Samsung sehingga bergabungnya perusahaan ke konsorsium harusnya berarti sesuatu yang penting dalam strategi kompetisi itu.
Di luar itu, kebanyakan produsen smartphone memang sudah mulai menawarkan pengisian daya nirkabel. Nokia, Samsung, dan Google sebelumnya telah menawarkan ponsel dengan dukungan pengisian nirkabel. Bahkan Nokia telah memperkenalkannya lewat Lumia saat teknologi ini masih sangat awal pada 2012.
Dengan sistem Qi, bantalan pengisi daya nirkabel dihubungkan ke stopkontak. Ponsel yang ditaruh diatas bantalan ini lantas akan mengisi baterai dengan induksi. Induksi terjadi lantaran adanya medan magnet yang menghantarkan listrik. Medan magnet ini dihasilkan dari gulungan kawat yang ada dalam bodi ponsel dan bantalan.
Bantalan yang didukung Qi dapat ditemukan di restoran makanan cepat saji tertentu sebagai cara untuk menarik orang-orang yang kelaparan sekaligus mengisi baterai smartphone mereka. Standar Qi sendiri saat ini telah digunakan secara lebih luas di dunia meski belum menjadi mainstream di Indonesia.