Gerakan nasional tersebut diberi nama #SiBerkreasi. Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara membuka peluncuran gerakan ini di kompleks Gedung Joang '45, Menteng, Jakarta.
Kementerian yang dipimpin Rudiantara jadi salah satu organisasi yag mendukung gerakan ini, bersama Kemensetneg, Kemendikbud, Kemendikristi, Bekraf, KPI, dan KPAI. Dari pihak non-pemerintah terdapat komunitas seperti Mafindo, ICT Watch, media, lembaga riset, hingga akademisi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Indonesia termasuk negara yang belum punya kebijakan komprehensif tentang literasi digital di antara negara G20. Gapnya terlalu tinggi. Itu yang menjelaskan kenapa kita sangat rentan terhadap hoax, bullying, dan radikalisme digital," terang Dedy.
Data Kominfo mencatat ada lebih dari 800 ribu situs web di Indonesia yang terindikasi sebagai penyebar berita palsu, ujaran kebencian, konten bernada SARA, pornografi, hoaks, narkoba, terorisma, dan lainnya.
Ada Dua Metode
Gerakan ini mengusung dua metode dalam melawan arus konten negatif. Pertama adalah langkah formal dengan memasukkan pengetahuan literasi digital ke kurikulum sekolah, dari level SD hingga universitas.
Dedi menuturkan sejumlah organisasi yang tergabung dalam gerakan #SiBerkreasi ini sudah punya konsep kurikulum tersebut. Selanjutnya mereka akan mendekati Kemendikbud untuk merestui draf kurikulum buatan mereka menjadi bahan ajar di sekolah-sekolah.
"Target untuk draf kurikulumnya jadi di akhir tahun ini," katanya.
Lihat juga:Cara Supaya Kamu Tak Jadi Korban Hoax |
Dedy mengatakan sejauh ini #SiBberKreasi bisa dibilang sebagai gerakan terbesar yang pernah ada di Indonesia untuk melawan konten negatif. Untuk soal keanggotaan, saat ini sudah ada 37 organisasi yang menyatakan dukungan formalnya ke gerakan ini.