CEO Kudo Albert Lucius menggambarkan perbedaan segmen pasar dengan Grab memperluas cengkeraman Kudo. Grab yang lebih terpusat di kota-kota primer menutup celah yang ditinggalkan oleh Kudo yang berfokus di kota-kota sekunder.
Seperti diketahui Kudo adalah e-commerce berjenis online to offline (O2O) yang membidik masyarakat rural yang belum tersentuh oleh infrastruktur internet yang mumpuni serta layanan perbankan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita sehabis gabung dengan Grab jadi tambah sibuk. Kalau kemarin terpusat di agen saja, sekarang ada driver juga," kata Albert dalam sesi wawancara di bilangan Sudirman, Jakarta, Kamis (5/10).
Mengoptimalkan Peran Keluarga
Albert juga menuturkan ketika Kudo bergabung di bawah naungan Grab, ada celah lain yang Kudo incar. Biasanya mitra pengemudi adalah kepala keluarga. Sementara pasangannya hanya mengurusi rumah tangga, Kudo justru membidiknya sebagai agen.
Kudo menyambut peluang ini dengan melepas program bernama "Keluarga GrabKudo". Mereka menjanjikan penghasilan lebih besar akan diperoleh satu keluarga yang mengikuti program ini.
"Kalau dari volume transaksi pulsa yang palig banyak, tapi kalau dari nilainya jauh yang marketplace," ucap Albert.
Agen Kudo sendiri diklaim sudah mencapai angka ratusan ribu yang tersebar di 500 kota di 34 provinsi Indonesia. Agen Kudo mendapat keuntungan dari komisi yang didapat dari tiap transaksi yang dilakukan. Besar komisi tiap transaksi bervariasi. Sebab, semakin sulit produk yang mereka jual ke masyarakat, nilai komisi akan semakin besar.
Sebagai contoh, menjual produk asuransi dan pinjaman, agen akan dapat komisi yang lebih besar ketimbang berjualan pulsa. Untuk produk asuransi dan pinjaman, keuntungan agen bisa mencapai 20 hingga 30 persen.
Catatan Redaksi: Redaksi melakukan perubahan pada alinea 11 dan menambahkan paragraf 12 pada Sabtu (7/10) pukul 09.00 berupa pembaruan data.