Data BLS yang dirilis 2015 mengungkap kemampuan pemrograman sebagai salah satu kemampuan yang paling dicari ketimbang profesi lain. Sekitar 26 juta pekerjaan di Amerika Serikat membutuhkan seorang ahli pemrograman.
Hanya saja, kebutuhan industri dan ketersediaan ahli bahasa pemrograman tidak berbanding lurus. Meski begitu, fakta ini tak menyurutkan profesi ahli bahasan pemrograman, terlebih jika melihat kebutuhan di berbagai industri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengatasi ketimpangan antara kebutuhan dan ketersediaan SDM, Massachusetts Institute of Technology (MIT) setahun belakangan meluncurkan program bertajuk Coding Across the Curriculum “TeachCode Academy” di New Hampshire yang mendorong guru-guru belajar ilmu komputer dan memasukkannya ke dalam kurikulum pembelajaran di kelas.
Geliat kebutuhan ahli bahasa pemrograman di Indonesia juga terus berkembang. CEO Refactory, Taufan Aditya menegaskan peluang bagi ahli bahasa pemrograman di Indonesia dan Asia terbuka sangat lebar, terlebih saat ini jumlahnya mash terbatas.
Lihat juga:Indonesia Darurat Tenaga Programmer |
"Asia itu ibarat tanah tak bertuan, pemainnya masih sedikit yang benar-benar ada di kelas profesional, apalagi di Indonesia," imbuh Taufan dalam keterangan resmi.
Sebagai agregator bagi perusahaan rintisan, Refactory berusaha mengambil peluang untuk memenuhi kebutuhan industri dengan mengasah kemampuan bahasa pemrograman. Pusat pelatihan (bootcamp) Refactory yang saat ini berada di Bandung dan Yogyakarta diharapkan turut berkontribusi menghasilkan ahli bahasa pemrograman sesuai dengan kebutuhan industri saat ini.
Refactory menargetkan lulusannya memiliki kemampuan mumpuni di bidang bahasa pemrograman dan membuat standar lulusannya memiliki rentang pendapatan minimum Rp10 juta.
"Ini untuk meningkatkan harga jual para programmer dan membuat mereka setara dengan profesi seperti dokter, atau pekerjaan lain. Dunia digital tak bisa dibendung lagi," pungkas Taufan.