Thomas Djamaluddin selaku Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) juga sangat menyayangkan kebohongan yang dilakukan Dwi. Kebohongannya telah mencederai kode etik sebagai seorang ilmuwan.
"Tentunya sangat disayangkan kejadian seperti itu dilakukan karena sudah melanggar kode etik dalam penelitian dan karya ilmiah," kata Djamal usai ditemui di acara Multi GNSS Asia (MGA) Conference di Hotel Ayana MidPlaza Jakarta, Senin (9/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami banyak teman di Delft kemudian mulai bertanya-tanya kenapa Dwi tidak pernah merespons. Ya, mungkin karena tidak sesuai dengan bidangnya," tutur Djamal.
Senada dengan Djamal, Deden Rukmana, Professor and Coordinator of Urban Studies and Planning, Savannah State University menyayangkan insiden tersebut.
Ia menerangkan terbongkarnya kebohongan Dwi lantaran ada seorang pengurus Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) yang secara pribadi mengenai Dwi dan mengetahui kebohongannya.
"Kebohongan publik telah terjadi sejak 2 tahun terakhir. Awalnya ada seorang yang mengenal Dwi secara pribadi mengetahui kebohongan itu dan mengontak saya serta membagikan hasil investigasi bersama alumni TU Deft," jelas Deden melalui surel kepada CNNIndonesia.com, Senin (9/10).
Paulina Pannen, Staf Ahli Bidang Akademik Kemenristekdikti juga menyatakan kekecewaan yang sama. Padahal menurutnya, Dwi tidak harus menjadi seseorang yang bukan dirinya hanya untuk mendapatkan perhatian media.
"Sayang sekali, seorang pemuda tidak mau mengakui kekurangan dirinya bahwa dia bukan itu (ilmuwan dirgantara) tetapi yang ini. Padahal dengan yang ini pun dia bisa lebih baik dari yang lain," ujarnya
Paulina juga menyangkan sikap media yang melakukan pemberitaan tanpa melakukan pengecekan ke lembaga terkait.
"Padahal wartawan kan bisa ngecek ya, zaman sekarang mudah saja ngecek seperti ini. Jadi jangan berbohong, sama sekali jangan berbohong termasuk seperti yang dilakukan Dwi Hartanto atau plagiarisme itu sama persis," ucapnya menambahkan.