Selain GPS, Indonesia Harus Kenal Sistem Satelit Lain

Kustin Ayuwuragil, CNN Indonesia | Selasa, 10/10/2017 01:29 WIB
Selain GPS, Indonesia Harus Kenal Sistem Satelit Lain Ilustrasi satelit. Penggunaan multi-satelit GNSS diperlukan untuk meningkatkan akurasi lokasi (dok. AFP PHOTO / CNES)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kecanggihan teknologi sistem satelit navigasi dewasa ini telah mengalami perkembangan untuk memenuhi kebutuhan di berbagai bidang mulai dari pemantauan lingkungan hingga maritim. Kendati demikian, masyarakat Indonesia ternyata mayoritas hanya mengenal GPS dari banyaknya GNSS (Global Navigation System) yang ada.

"Kalau teman-teman kan tahunya GPS ya. Tapi secara ilmiah GPS hanya satu sistem di GNSS," kata Kepala Badan Informasi Geospasial (BIG), Prof Dr. Hasanuddin Z. Abidin, MSc. Eng saat membuka GNSS di Ayana MidPlaza Jakarta, Senin (9/10).

Sementara itu menurut Ketua (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) LAPAN, Thomas Djamaluddin, penggunaan Multi-GNSS sebenarnya sangat penting untuk sektor-sektor di Indonesia. Pengaplikasiannya sudah merambah ke aspek tanggap darurat sampai mitigasi bencana.



"Kita sudah memulai teknologi antariksa itu sejak 1976 ketika kita memutuskan untuk menggunakan satelit Palapa untuk komunikasi. Kemudian teknologi satelit juga digunakan untuk pengintaian jarak jauh. Setelah itu penggunaan satelit juga untuk navigasi dan perubahan posisi," ujar Djamal menjelaskan awal sejarah penggunaan teknologi satelit Indonesia.

Hasanudin kemudian menambahkan bahwa dampak ekonomi dari GNSS sejatinya sangat besar. Multi GNSS lebih bisa diandalkan dan lebih akurat jika digunakan untuk penelitian maupun mitigasi bencana daripada hanya menggunakan satu GNSS saja.

Dia menjelaskan, yang pertama, GNSS itu lebih akurat kalau lebih banyak sistem. Jadi kalau sekarang pakai GPS, ketelitiannya itu bisa 3-5 meter. Menurutnya, kalau diperuntukkan untuk sehari-hari pemakaian GPS sudah cukup, tetapi kalau untuk kepentingan mitigasi bencana dan penelitian dinilai kurang.

"Inginnya real time jadi urusan surat tanah dan transportasi itu akan jadi mudah dan cepat, jadi dampak ekonominya besar," ujar dia.


"Kemudian Multi GNSS juga lebih reliabel. Kadang ada di suatu daerah yang sinyal GPS keblokir dan segala macam, bisa pakai sinyal Beiduo (GNSS milik China) dan yang lain," terangnya.

Sayangnya, penelitian dan pengembangan Multi GNSS ini masih sangat minim di Tanah Air. Hal itu diungkapkan oleh staf ahli bidang akademik Kemenristekdikti, Paulina Pannen, dalam kesempatan yang sama.

"GNSS itu penting sekali untuk Indonesia. Kita juga negara yang sangat besar, tidak mungkin tidak pakai satelit. Multi GNSS itu bisa membantu. Tapi sayangnya Indonesia masih minim sekali riset tentang ini. Mungkin peminatan pengembangan di bidang ini masih rendah," terangnya.

Oleh sebab itu, LAPAN mengadakan konferensi Multi GNSS dengan tema ‘Next Generation Multi-GNSS Resilient Solution for Sustainable Development’. Konferensi yang berlangsung 9-11 Oktober ini mempertemukan pakar GNSS, pelaku industri, praktisi di bidang ini dengan pemerintah.

Gunanya, untuk meningkatkan pengetahuan tentang aplikasi GNSS di Indonesia. Konferensi ini merupakan hasil kerjasama dengan Building European Link towards South East Asia, GNSS Asia, Japan Space Exploration Agency (JAXA) dan QZSS (Quasi Zenith Satellite System) Services Konferensi.

(eks/eks)