Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin menerangkan saat ini pihaknya baru mengantongi dua usulan lokasi pendirian stasiun peluncuran satelit. Kedua lokasi tersebut yakni di Biak, Papua dan Morotai, Maluku Utara.
Untuk mencapai target ketersediaan stasiun peluncuran satelit di tahun 2040, Thomas menjabarkan ada beberapa langkah strategis yang harus dicapai LAPAN dalam beberapa tahun kedepan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, usai melalui studi kelayakan, pembangunan stasiun peluncuran satelit ditargetkan bisa rampung pada 2040 dan beroperasi dalam skala kecil di tahun 2036.
Usai merampungkan studi kelayakan, ia memastikan nantinya operasional stasiun peluncuran sepenuhnya dilakukan oleh SDM lokal. Jika memang membutuhkan campur tangan SDM asing, menurutnya hal itu hanya untuk transfer teknologi saja.
Lihat juga:VIDEO: Mengenal Cara Kerja Satelit |
Keuntungan ekonomis
Ia menjabarkan, kehadiran stasiun peluncuran satelit semestinya tidak eksklusif hanya untuk satelit milik Indonesia saja. Menurutnya, kehadiran stasiun peluncuran satelit bisa dikomersialkan oleh negara yang memiliki aktifitas keantariksaan.
Dari segi efisiensi, stasiun peluncuran ini nantinya juga menyasar beberapa negara-negara Asia seperti Jepang, China, Korea Selatan, dan India yang secara aktif meluncurkan satelit.
"Dari segi potensi, yang paling memungkinkan melakukan kerjasama karena banyak yang mengaku tertarik. China mengaku menginginkan ada badan antariksa untuk peluncuran roket mereka, karena Indonesia bereda di dekat ekuator untuk mempermudah setelit sampai ke orbit," jelasnya.
Selain China, negara-negara seperti India, Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan terhitung aktif meluncurkan satelliet. China menjadi negara paling aktif di kawasan Asia Pasifik yang meluncurkan satelit hingga 70 kali dalam setahun. (evn)