Indonesia saat ini menjadi salah satu dari dua negara di Asia Tenggara yang sistem penyiarannya belum 'hijrah' digital. Padahal dalam kesepakatan ITU, badan PBB yang mengurusi teknologi, migrasi sudah harus dilakukan pada 2015 lalu.
Wakil Ketua Komisi Penyiaran Rahmat Arifin mengatakan Indonesia sudah terlalu tertinggal akibat RUU Penyiaran yang tak kunjung rampung. Makin lama pengesahan dilakukan, menurutnya Indonesia kian terhambat menjelma menjadi negara ekonomi digital dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dia (Rudiantara) menyatakan begini, kalau sampai akhir 2017 ini UU Penyiaran tidak disahkan, kemungkinan pemerintah akan menetapkan Perppu Penyiaran di 2018. Artinya, kalau sampai Perppu Penyiaran diterbitkan berarti Indonesia sudah darurat digital, sama seperti Perppu Ormas itu," ungkap Rahmat.
Penyiaran digital nanti memungkinkan frekuensi yang dipakai jadi jauh lebih efisien. Dari sekian lebar frekuensi yang dipakai di sistem analog, bakal ada penghematan 112 MHz bila sistem penyiaran beralih ke digital.
Penghematan 112 MHz yang disebut sebagai digital dividen itu yang kemudian akan dialihfungsikan untuk berbagai keperluan, mulai dari penguatan jaringan pita lebar internet hingga mitigasi bencana.
Lihat juga:Mempertanyakan Keamanan Investasi Bitcoin |
Satu-satunya penghalang migrasi digital saat ini sebenarnya adalah memakai sistem single mux atau multi mux. Keduanya memungkinkan dipakai di iklim penyiaran dalam negeri.
Namun dalam konteks demokrasi, single mux yang membutuhkan operator tunggal milik negara seperti TVRI atau Badan Layanan Umum (BLU) bakal punya wewenang yang luas. Potensi penyalahgunaan atau intervensi negara ke operator tunggal ini yang jadi ketakutan dari sistem ini.
Rahmat juga menambahi kemampuan TVRI sebagai lembaga penyiaran pemerintah sebagai operator tunggal masih meragukan. "Tapi mohon maaf saya terus terang agak meragukan sebab frekuensi masih dibelit persoalan-persoalan sulit," katanya.
Neil Tobing dari Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) meyakinkan bahwa sistem multi mux lebih bisa diandalkan karena mereka lebih berpengalaman dalam bersiaran di industri ini.
"Kami punya zero tolerance, tak akan mati satu detik pun," ujar Neil di tempat yang sama. (evn)