“Pertama pesawat ini memang dirancang khusus untuk daerah terpencil seperti Papua. Dia hanya memerlukan landasan pendek, sekitar 500 meter. Kemudian dia bisa bermanuver dengan kecepatan rendah. Untuk bermanuver di antara bukit-bukit akan lincah terbang,” ungkap Djamal ketika ditemui usai usi coba pesawat di Landu Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Jumat (10/11).
Dengan bodinya yang kecil, pesawat ini disebut Djamal punya kapasitas besar. Dia mampu membawa beban hingga 2,3 ton. Ditambah lagi, ruangan di dalam kabin juga dibuat lebih tinggi.
“Dari segi muatannya dia kuat mengangkut 2,3 ton yang sudah unggul di kelasnya. Kemudian, di dalamnya punya ketinggian 1,7cm jadi untuk orang Indonesia kebanyakan tidak harus menunduk. Kalau pesawat lain yang sejenis masih harus menunduk,” terang dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mampu menjelajah 600-700 km, sehingga cocok untuk menghubungkan antarkota di wilayah terpencil seperti Papua.
Lebih lanjut, pesawat ini bisa difungsikan sebagai pesawat pengangkut barang dan penumpang. Hanya sekitar 19 penumpang dalam sekali penerbangan.
Program pesawat ini menjadi titik kembalinya LAPAN ke dunia penerbangan setelah hiatus sejak program XT-400 (pesawat I LAPAN) terakhir dilakukan 40 tahun lalu.
Program ini sekaligus menjadi bukti pelaksanaan UU Nomor 1 Tahun 2009 dan Perpres 28 tahun 2008 terkait pengembangan produk penerbangan perintis gang mengamanatkan LAPAN sebagai pembinanya.
(eks)