Fitur Baru Line Bisa Hapus Pesan yang Sudah Terkirim

Eka Santhika , CNN Indonesia | Sabtu, 18/11/2017 12:38 WIB
Fitur Baru Line Bisa Hapus Pesan yang Sudah Terkirim Line meluncurkan fitur untuk menarik kembali pesan yang sudah dikirim dalam waktu kurang dari 24 jam (dok. LINE)
Jakarta, CNN Indonesia -- Aplikasi berkirim pesan asal Korea Selatan, Line, memperkenalkan fitur untuk membatalkan pesan yang sudah terkirim. Pesan yang terlanjur terkirim bisa dihapus tanpa meninggalkan jejak seperti yang terjadi di WhatsApp.

Selain itu, fitur menghapus pesan ini berlaku untuk pesan yang dikirim dalam 24 jam terakhir, seperti disebutkan RocketNews24. Sementara WhatsApp hanya memberlakukan fitur itu untuk pesan yang dikirim dalam 7 menit terakhir.

Sayang, masih belum diketahui kapan fitur ini akan tersedia bagi pengguna di Indonesia.

Untuk merayakan fitur baru ini, Naver selaku pengelola Line melakukan kampanye, di momen Black Friday untuk mempromosikan fitur baru Line ini. Naver juga membuat kompetisi berhadiah dengan tagar #LINE誤爆 yang dalam Bahasa Indonesia berarti 'pesan LINE yang salah kirim'.



Sebelumnya, fitur serupa juga sempat dikeluarkan oleh WhatsApp dan Facebook Messenger, akhir Oktober lalu, demikian diberitakan The Verge.

Namun, fitur yang ada dalam platform Whatsapp ini tetap memberi informasi kepada pengguna yang dikirimi pesan bahwa pengirim telah menghapus pesan. Selain itu, fitur penghapus pesan ini bagi penerima pesan di WhatsApp juga hanya berlaku 7 menit sejak pesan pertama dikirim, seperti ditulis ThaiVisa

Tapi, fitur untuk menghapus pesan yang salah kirim ini sebenarnya sudah lebih dulu ada di layanan pesan instan Blackberry Messenger sejak 2014 lalu. Pengguna bahkan bisa mengirim pesan yang bisa hilang dengan sendirinya dalam jangka waktu tertentu.

Line merupakan salah satu aplikasi berkirim pesan asal Korea Selatan yang paling banyak digunakan di region Asia. Layanan pesan instan ini memiliki pasar terbesar di negara Jepang, Taiwan, Indonesia dan Thailand. Pengguna Line di Indonesia berjumlah 171 juta pengguna pada kuartal awal 2017. (sat/eks)