Padahal perubahan rotasi ini mungkin tak terlalu terasa oleh manusia. Sebab, perubahan rotasi ini sangat kecil, mengubah panjang waktu dalam sehari dalam hitungan mili detik.
Hubungan erat antara meningkatnya magnitude guncangan dan aktivitas seismik Bumi dengan kecepatan rotasi Bumi diteliti oleh Roger Bilham of the University of Colorado dan Rebecca Bendick of the University of Montana. Meski tak tahu persis mengapa mereka berhubungan, kedua ilmuwan menduga bahwa perubahan pada perilaku inti bumi adalah alasannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mereka juga menemukan bahwa rotasi Bumi melambat signifikan secara periodik dalam lima tahun sekali selama satu setengah abad terakhir. Pada periode tersebut frekuensi gempa Bumi meningkat lebih sering dan dahsyat.
"Kita akan menghadapi gempa bumi lima tahunan. Tahun depan kita akan melihat peningkatan yang signifikan dalam jumlah gempa bumi yang parah. [...] Sejauh ini kita hanya memiliki sekitar enam gempa bumi dahsyat. Kita bisa memiliki 20 gempa di 2018," terang Billham seperti dilaporkan The Guardian, Senin (20/11).
Sayangnya, sulit untuk memprediksi di mana gempa hebat akan terjadi. Kendati demikian, Bilham mengatakan bahwa mereka menemukan sebagian besar gempa bumi hebat akan terjadi di dekat khatulistiwa. Sekitar satu miliar orang tinggal di daerah tersebut.
Lihat juga:Perputaran Bumi Melambat, Apa Dampaknya? |
"Beberapa dari ilmuwan membuat korelasi yang dapat dipertahankan secara statistik, sementara yang lain tidak," katanya. "Makalah dari Amerika ini terdengar seperti kita akan mengalami lompatan dari enam ke 20 gempa besar per tahun. Saya kira ini tidak mungkin," tambahnya kepada Indian Express.
Dosen geologi tektonik lain dari Universitas Canterbury, Dr Tim Stah, juga mengatakan bahwa terlalu dini untuk mencapai sebuah kesimpulan tanpa pengujian tambahan yang dilakukan oleh kelompok penelitian lain. (eks)