Sulit Bersaing, Uber Diramalkan Hengkang dari Asia Tenggara

Bintoro Agung , CNN Indonesia | Selasa, 21/11/2017 12:01 WIB
Sulit Bersaing, Uber Diramalkan Hengkang dari Asia Tenggara Ketatnya persaingan bisnis di Asia Tenggara diramalkan membuat Uber akan menghentikan bisnisnya. (dok. CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam sebuah kesempatan, CEO Uber Dara Khosrowshahi mengatakan perusahaan yang ia pimpin masih kompetitif di setiap pasar yang mereka huni. Namun Khosrowshahi memberi pengecualian di Asia Tenggara yang dinilainya lebih kompetitif.

"Kami akan terus lanjut, dan kami condong terus maju. Akan tetapi saya tidak optimis pasar itu (Asia Tenggara) bisa menguntungkan dalam waktu dekat," ujar mantan CEO Expedia itu kepada Reuters, Selasa (21/11).

Khosrowshahi menilai kompetisi di Asia Tenggara sudah over-capitalized, istilah yang merujuk pada situasi pendapatan yang diperoleh tak sebanding dengan investasi yang dikucurkan oleh perusahaan.

Sumber Reuters mengatakan SoftBank yang baru mengucurkan investasi untuk Uber, condong melanjutkan kompetisinya di pasar Asia Tenggara. Upah pekerja yang murah dan tumbuhnya kelas menengah jadi alasan mereka mempertimbangkan hal itu.

Kompetisi di Asia Tenggara terbilang keras karena ada sejumlah pemain yang bersaing di dalamnya. Selain Uber, ada Grab dan Gojek di Indonesia, serta Didi Chuxing yang secara tak langsung menyicipi persaingan di kawasan ini. Khusus untuk Didi, mereka hanya menginvestasikan uangnya ke Grab.

Secara keseluruhan Grab mendominasi bisnis ride-hailing di Asia Tenggara. Sementara Uber masih bergerilya menghadapi Grab melalui perang promo dan diskon.

Perlu diingat bahwa utang yang ditanggung oleh Uber saat ini sudah mencapai US$645 juta atau sekitar Rp8,7 triliun. Angka yang cukup membuat para investor waspada.

Menutup operasional di Asia Tenggara adalah salah satu opsi untuk mengurangi beban tersebut. Terlebih Uber menargetkan akan melantai ke bursa saham (IPO) pada 2019 nanti.

Vinnie Lauria, pendiri venture capital Golden Gate Ventures, meramal langkah menarik diri dari Asia Tenggara akan diambil oleh Uber. Bersama Golden Gate Ventures, Lauria tercatat sudah berinvestasi ke 30 perusahaan berbeda di Asia.

"Saya tak bisa mengatakannya dengan pasti, tapi saya cukup yakin setelah transaksi (SoftBank-Uber), kita akan menyaksikan Uber menjual operasionalnya ke Grab atau Didi," tutur Lauria.

Pertanda lain Uber kesulitan di Asia Tenggara adalah hengkangnya sejumlah eksekutif di sejumlah negara operasionalnya seperti Indonesia, Malaysia, dan Vietnam.

Potensi bisnis dari populasi total sekitar 650 juta dan gemar memakai gawai membuat Asia Tenggara dianggap sebagai pasar masa depan Uber. Namun tantangan yang dihadapi pun tak kalah besarnya, terutama menghadapi regulator.

Peran SoftBank

Wacana hengkangnya Uber dari pasar Asia Tenggara ini muncul dari kesepakatan SoftBank berinvestasi ke Uber. Sudah jadi pengetahuan publik bahwa SoftBank adalah salah satu investor utama Grab.

"Membuat kesepakatan baru dan menggabungkan dua bisnis di Asia Tenggara sangat masuk akal. Dia (CEO Uber) memangkas kerugiannya dan mendapat saham di bisnis yang dalam perspektifnya lebih dari sekadar ride-sharing," kata seorang sumber Reuters yang enggan menyebut namanya.


Skema kesepakatan antara Uber dan Grab yang ditengahi oleh SoftBank nanti bisa berlangsung seperti yang terjadi antara Uber dan Didi di China. Sadar kalah bersaing dari Didi di China, Uber memutuskan hengkang. Caranya adalah dengan menerima pinangan Didi terhadap operasionalnya di China dan sebagai gantinya, Uber memiliki saham di Didi.

Wacana investasi SoftBank ke Uber berkisar di angka US$1 miliar hingga US$1,5 miliar. SoftBank bersama Dragoneer Investment Group berniat membeli saham Uber hingga 17 persen di transaksi kedua.

Menyangkut kabar ini, perwakilan Uber Indonesia mengatakan tak ada tambahan mengenai informasi terkait. Mereka juga menolak mengomentari lebih lanjut. (evn/evn)