Masalah terletak pada fitur administrasi yang bernama ME (Management Engine). Penjahat yang memanfaatkan kerentanan ini berpotensi untuk mengambil alih jutaan komputer di dunia.
Sebab, mereka bisa memberi perintah dari jarak jauh pada komputer dan mengakses informasi sistem khusus. Serangan jarak jauh bisa dilakukan lewat akses administratif itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukan cuma Intel Core, Intel Xeon yang menjadi otak server juga terdampak. Prosesor Apollo Lake Pentium and Celeron N and J untuk perangkat mobile juga ikut terkena perentanan ini.
Solusi
Intel lantas merilis Detection Tool yang memungkinkan administrator perangkat Windows dan Linux untuk mengecek sistem apakah gawai mereka ada yang sudah diserang atau tidak.
Intel juga sudah menyediakan update terbaru untuk menambal kerentanan keamanan ini. Namun, tentu membutuhkan waktu bagi produsen gawai untuk mendistribusikan pembaruan ini ke konsumen.
"Bisnis, administrator serta pemilik sistem harus mengonfirmasi vendor mereka untuk update sistem ini dan menerapkan pembaruan sesegera mungkin," tegas Intel.
Sejak Selasa (22/11) tengah malam, HP, Dell, dan sejumlah vendor lain sudah menyiapkan tambalan firmware untuk memperbaiki kerentanan proseso Intel ini, seperti disebutkan Arstechnica.
Sebelumnya, disebutkan juga kalau Lenovo juga sudah memberikan pembaruan serupa.
Sehingga pemilik perangkat tak perlu datang kekantor untuk melakukan pembaruan software atau jika ada masalah pada laptop mereka. Kuasa fitur ini terhadap kendali komputer sangat tinggi. Sehingga sejumlah peneliti keamanan sudah memeringatkan sejak lama bahwa fitur ini bisa menjadi senjata makan tuan. (eks/sat)