Sejak dahulu kala, perilaku tak lazim hewan dianggap sebagai pertanda akan datangnya sebuah bencana alam. Keyakinan semacam itu pun terus menurun ke masyarakat dewasa ini.
Ketika gempa besar dan tsunami terjadi pada 2004 silam di Samudera Hindia, banyak laporan mengenai tingkah laku tak biasa dari hewan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Laporan National Geographic tak lama dari kejadian itu menyebutkan sedikit sekali hewan yang ditemukan tewas. Padahal di saat yang sama korban manusia akibat gempa dan tsunami itu mencapai ratusan ribu dari sejumlah negara.
Hiroyuki Yamauchi dari National Tsing Hua University pernah melakukan survei mengenai reaksi kucing sebelum gempa terjadi.
Penelitian serupa dilakukan oleh Henry Streby dari University of California Berkeley. Dalam jurnal Current Biology, dia menemukan burung jenis warbler meninggalkan habitatnya 24 jam sebelum sebuah badai menimpa tempatnya.
"Di saat bersaman ketika ahli cuaca di The Weather Channel menyampaikan ada badai yang datang, burung-burung itu ternyata sudah pergi mengevakuasi dirinya," ucap Streby seperti dikutip dari laman The Seeker.
Belum Sepenuhnya Terbukti
Contoh kejadian dan penelitian di atas tak lantas membuat semua orang setuju bahwa hewan bisa mendeteksi bencana yang akan datang. United States Geological Survey (USGS) misalnya yang skeptis ada korelasi perilaku spesifik hewan dengan aktivitas kegempaan.
"Banyak sekali anekdot yang kita hadapi. Reaksi binatang bisa disangkutkan ke banyak hal, ketika mereka lapar, mempertahankan wilayah kekuasaan, kawin, hingga ke predator, sulit membuat studi terukur untuk memperoleh sinyal peringatan dini seperti itu," kata Andy Michael, ahli geofisika di USGS, seperti dikutip National Geographic.
Namun Sheldrake tak menampik bahwa perlu penelitian yang lebih dalam untuk mengetahui secara pasti hubungan hewan dan bencana alam.
"Butuh projek besar untuk menangkap imajinasi jutaan orang, mendoron penelitian dengan partisipasi publik yang besar dan menyenangkan," tukas Sheldrake. (eks)