Kecerdasan buatan ini dikembangkan untuk menemukan orang yang berpotensi memiliki rencana untuk bunuh diri. Cara kerjanya yakni ketika menemukan seseorang yang berada dalam bahaya, perusahaan akan memberikan bendera pada postingan orang tersebut untuk diteruskan ke bagian moderator yang akan merespons dengan mengirimkan ahli kesehatan mental.
Dalam kondisi yang lebih darurat, moderator yang menggunakan sumber daya manusia untuk menemukan orang yang dalam keadaan bahaya tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika kita bisa menggunakan AI untuk membantu orang agar mereka selalu ada untuk keluarga dan teman, itu adalah hal yang penting dan langkah positif ke depan," tulisnya.
Teknologi ini juga menguji siaran live untuk mengidentifikasi bagian video yang mendapatkan lebih banyak komentar, reaksi dan laporan. AI akan mencari kata-kata kunci seperti "apakah kamu baik-baik saja" atau "adakah yang bisa kubantu?" dalam kolom komentar dari postingan pengguna.
Moderator manusia yang akan memainkan peran penting dalam menentukan apakah pengguna Facebook sedang dalam kondisi kesulitan.
Facebook juga akan memprioritaskan laporan untuk pengguna dalam keadaaan darurat. Alat akan langsung menampilkan info dalam bahasa lokal dan kontak orang yang bisa dihubungi untuk penanganan bunuh diri. Perusahaan mengklaim sejauh ini telah bermitra dengan 80 partner lokal untuk menangani kasus ini.
VP manajemen produk Guy Rosen menyebut AI dikembangkan untuk memperpendek beberapa menit setiap langkah, terutama di Facebook Live untuk bunuh diri. "Ada kasus di mana responden pertama tiba dan orang yang mencoba bunuh diri itu masih menyiarkan percobaannya."
Dalam sebuah penelitian, data yang digunakan di rumah sakit menunjukkan akurasi AI mencapai 80-90 persen dalam menemukan orang yang berniat mengakhiri hidupnya. Dengan kata lain, data itu tidak umum merepresentasikan populasi yang cukup besar.
Facebook memang tidak secara gamblang memberikan penjelasan atas antisipasi penyalahgunaan sistem AI miliknya. Kepala keamanan utama Facebook, Alex Stamos menanggapi kekhawatiran tersebut dalam kicauannya di Twitter.
"Penggunaan AI yang menyeramkan / menakutkan / berbahaya akan menjadi risiko selamanya. Oleh karena itu penting untuk menetapkan norma yang baik saat ini di seputar penggunaan data versus utilitas dan memikirkan tentang bias yang merayap masuk juga," cuitnya seperti dilaporkan The Verge.
Teknologi ini kabarnya akan dirilis untuk pengguna di seluruh dunia, kecuai Uni Eropa. Hal itu lantaran AI dianggap melakukan profiling pengguna yang melanggar hukum di sana. (evn)