Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara, menyatakan bahwa bitcoin bisa menciptakan black economy karena asal muasal atau penerbit uang tersebut tidak jelas. Namun, dia tidak menolak kehadiran teknologi blockchain yang menjadi teknologi dasar beroperasinya bitcoin dan cryptocurrency lainnya.
Co founder Block Tech Steven Suhadi menerangkan bahwa blockchain tak ubahnya seperti system Android di mana aplikasi berjalan dengan system tersebut. Bitcoin bisa dibilang hanya satu aplikasi dari system blockchain.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Bitcoin Ditolak, Blockchain Dirangkul |
Di masa depan, Steven memprediksi bahwa teknologi ini akan menjadi penganggu dari teknologi yang sekarang mendisrupsi teknologi lama. Sebab, teknologi ini menjanjikan efisiensi dan dampak positif.
Lebih lanjut, Steven juga mengatakan blockchain sama seperti teknologi internet di mana dia bisa mendisrupsi hampir semua sector. Namun yang paling akan terdisrupsi kata dia adalah bidang keuangan, asset, kesehatan, asuransi hingga industry media.
Cara kerja blockchain
Steven menjelaskan bahwa blockchain menggunakan system terdesentralisasi yang memungkinkan efisiensi. Ketika seseorang membeli coin bitcoin, sistem computer yang terhubung jaringan blockchain akan mencatat dan memberikan validitas secara otomatis. Sehingga, minim kesalahan, cepat, lebih murah dan mudah.
Lihat juga:Mempertanyakan Keamanan Investasi Bitcoin |
Blockchain memanfaatkan konsensus, kondisi yang tercapai ketika semua peserta dalam jaringan menyetujui validitas sebuah transaksi dengan mencatat apa yang tercatat oleh computer dalam data besar cocok satu sama lain.
Bitcoin sendiri adalah mata uang pertama yang berjalan dalam jaringan tersebut tanpa memerlukan perantara atau penerbit yang terpusat berkat sifat blockchain yang terdesentralisasi. Hal inilah yang membuat Bank Indonesia tak merestui mata uang ini digunakan di Indonesia. (eks)